Kamis, 24 April 2014

KOPI TERNYATA JUGA BANYAK MANFAATNYA BUAT KAUM WANITA

Manfaat Kopi Bagi Kecantikan Wajah dan Kulit ::
Kopi merupakan salah satu jenis minuman yang berasal dari ekstraksi biji tanaman kopi yang diproses melalui pengolahan. Selain mempunyai kandungan kafein, ternyata kopi juga mempunyai kandungan asam buah, asam organik, lemak, alkaloid, mineral, potasium, magnesium dan besi yang banyak bermanfaat bagi kecantikan wajah dan kulit.
Tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan tubuh saja, kopi juga dapat bermanfaat bagi kecantikan seperti kulit dan rambut. Berikut ini manfaat kopi bagi kecantikan:
- Mencegah dan mengurangi kerutan di kulit
- Menghaluskan kulit
- Mencegah timbulnya jerawat
- Melembabkan kulit
- Membantu menghilangkan sel kulit mati
- Menghilangkan bau badan
- Menghilangkan selulit
- Menetralkan kulit yang teriritasi
- Memberikan nutrisi pada kulit

Berikut cara menggunakan kopi untuk kecantikan:

# Menyegarkan Kulit Wajah
Buatlah segelas kopi, lalu masukkan ke dalam cetakan es batu, kemudian bekukan ke dalam freezer hingga beku. Setelah kopi membuka potonglah es kopi tersebut, setelah itu usaplah ke bagian wajah seperti memakai lotion. Cuci bersih wajah menggunakan air bersih, dan rasakan wajah akan terasa kembali segar.

# Revitalisasi Kulit
Ambil 3 sendok teh kopi, kemudian campurkan dengan 1 sendok teh susu, lalu buatlah hingga menjadi pasti. Setelah itu ambil pasta tersebut, lalu oleskan pada wajah sebagai scrub. Pijat seluruh area wajah secara perlahan-lahan dalam gerakan melingkar, kemudian biarkan hingga pasta mengering. Setelah kering, bilaslah wajah dengan air dingin, lalu keringkan dengan ganduk lembut dengan cara ditepuk-tepuk secara perlahan.

# Mengencangkan Kulit
Cucilah kulit wajah terlebih dahulu dengan kapas yang telah dibasahi dengan larutan kopi yang telah diseduh. Selain bermanfaat untuk mengencangkan kulit wajah, larutan kopi yang dijadikan lotion tadi dapat menghilangkan kecoklatan pada kulit wajah dan tubuh.

# Melangsingkan dan Menghaluskan Kulit Tubuh
Sebelum menggunakan kopi, sebaiknya sikatlah tubuh sahabat terlebih dahulu dengan menggunakan sebuah sikat khusus tubuh, kemudian balurkan kopi yang ditumbuk kasar ke seluruh bagian tubuh dan gosoklah secara perlahan-lahan sebagai scrub. Di India, kebiasaan ini dipercaya dapat melangsingkan tubuh bila dilakukan secara teratur, karena kandungan kafein yang terdapat dalam kopi dapat menghancurkan sel lemak.

# Untuk Body Massage
Campurkan kopi dengan kakao butter atau mentega biasa, setelah itu pijatlah perlahan-lahan ke seluruh bagian tubuh hingga rata. Cara ini dapat bermanfaat untuk menghaluskan kulit, memelihara kulit, melembapkan dan mencegah keriput.

# Membuat Rambut Hitam Alami
Campurkan 2 kuning telur, 1 sendok rum dan 2 sendok air hangat, kemudian tambahkan dengan 1 sendok kopi bubuk dan minyak sayur, lalu aduk hingga rata. Setelah itu oleskan masker tersebut ke bagian rambut dan diamkan selama kurang lebih 5 menit dan bilas dengan air hangat.

Jumat, 18 April 2014

TERNYATA ROKOK BANYAK MANFAATNYA

Anda pasti terkaget-kaget ketika membaca judul warta ini. Sama
seperti terkejutnya saya ketika pertama kali membaca dari sumbernya. Saya
sadar informasi negatif tentang rokok dan kebiasaan merokok dijejalkan
kepada kita sudah sejak lama. Sebagian besar menghubung-hubungkan dampak
buruk asap rokok dan zat-zat yang terkandung di dalamnya terhadap
kesehatan tubuh manusia. Informasi tersebut diterima oleh masyarakat
luas yang awam mengenai riset dan penelitian sebagai kebenaran mutlak
yang tidak perlu diperdebatkan.
Namun tidak demikian dengan para ilmuwan. Sesuai dengan bidang
ilmunya mereka mengadakan penelitian seputar dampak rokok dan merokok
bagi kesehatan dengan berangkat dari dasar pemikiran yang netral.
 Mereka mencoba menggali adakah manfaat zat-zat yang terdapat di dalam
sebatang rokok untuk kesehatan manusia, yang selama ini sudah diberi
stigma negatif secara luas.
Warta ini tentu tidak bermaksud mengajak anda untuk mulai merokok
atau meneruskan kebiasaan anda mengisap asap tembakau. Tetapi adalah hak
anda untuk percaya atau tidak bahwa nikotin dan zat-zat lain yang juga
berasal dari alam dan berada di dalam rokok juga mempunyai kegunaan.
Berikut beberapa riset yang menguak manfaat rokok bagi kesehatan
manusia. Saya bukan seorang dokter atau peneliti bidang kesehatan, jadi
pembahasan ilmiah tentang isi warta ini bisa diperdebatkan oleh para
pakar sendiri.

1. Merokok Mengurangi Resiko Parkinson
Banyak bukti yang menunjukkan bahwa merokok melawan penyakit
Parkinson. Sebuah penelitian terbaru menambah kuat bukti sebelumnya yang
melaporkan bahwa merokok dapat melindungi manusia dari penyakit
Parkinson.  Secara khusus, penelitian baru tersebut menunjukkan hubungan
temporal antara kebiasaan merokok dan berkurangnya risiko penyakit
Parkinson.  Artinya, efek perlindungan terhadap Parkinson berkurang
setelah perokok menghentikan kebiasaan merokoknya.
Studi lain mengenai pengaruh positif merokok terhadap Parkinson Desease
(PD) adalah sebuah penelitian terhadap 113 pasangan kembar
laki-laki. Tim peneliti yang dipimpin oleh Dr Tanner terus melihat
perbedaan yang signifikan ketika dosis dihitung sampai 10 atau 20 tahun
sebelum diagnosis.  Mereka menyimpulkan bahwa temuan ini menyangkal
pernyataan bahwa orang yang merokok cenderung memiliki PD.  Masih banyak penelitian yang lainnya mengenai kebiasaan merokok yang berguna melawan Parkinson.

2. Perokok lebih kuat dan cepat sembuh dari serangan jantung dan stroke
Penelitian besar menunjukkan manfaat lain merokok, yakni manfaat
terhadap restenosis atau penyempitan pembuluh darah yang menyebabkan
aliran darah menjadi terbatas, seperti pembuluh darah ke jantung
(cardiovaskular disease) atau ke otak (stroke)  Perokok memiliki
kesempatan yang lebih baik untuk bertahan hidup dan penyembuhan yang
lebih cepat.
Penelitian lain menyebutkan krbon mnoksida dapat mengurangi serangan
jantung dan stroke.  Karbon monoksida merupakan produk sampingan dari
asap tembakau.  Sebuah laporan menunjukkan tingkat sangat rendah dari
karbon monoksida dapat membantu para korban serangan jantung dan stroke.
 Karbon monoksida menghambat pembekuan darah, sehingga melarutkan
gumpalan berbahaya di pembuluh arteri.  Para peneliti memfokuskan pada
kemiripan yang dekat antara karbon monoksida dengan oksida nitrat yang
menjaga pembuluh darah tetap melebar dan mencegah penumpukan sel darah
putih.  Baru-baru ini oksida nitrat telah ditingkatkan statusnya dari
polutan udara biasa menjadi penghubung fisiologis terpenting kedua
secara internal.  Oleh karena itu tidak akan mengherankan kalau karbon
monoksida secara paradoks dapat menyelamatkan paru-paru dari cedera
akibat penyumbatan pembuluh darah ke jantung (cardiovascular blockage).

3. Merokok mengurangi resiko penyakit susut gusi yang parah
Dulu disebutkan bahwa tembakau adalah akar semua permasalahan
penyakit gigi dan mulut.  Padahal sebuah studi menunjukkan bahwa
sebenarnya perokok berisiko lebih rendah terhadap penyakit gusi.

4. Merokok mencegah asma dan penyakit karena alergi lainnya
Sebuah studi dari dua generasi penduduk Swedia menunjukkan dalam
analisis multi variasi, beberapa anak dari para ibu yang merokok
sedikitnya 15 batang sehari cenderung memiliki peluang yang lebih rendah
untuk menderita alergi rhino-conjunctivitis, asma alergi, eksim atopik
dan alergi makanan, dibandingkan dengan anak-anak dari para ibu yang
tidak pernah merokok.  Anak-anak dari ayah yang merokok sedikitnya 15
batang rokok sehari memiliki kecenderungan yang sama.

5. Nikotin membunuh kuman penyebab tuberculosis (TBC)
Suatu hari Nikotin mungkin menjadi alternatif yang mengejutkan
sebagai obat TBC yang susah diobati, kata seorang peneliti dari
University of Central Florida (UCF).  Senyawa ini menghentikan
pertumbuhan kuman TBC dalam sebuah tes laboratorium, bahkan bila
digunakan dalam jumlah kecil saja, kata Saleh Naser, seorang profesor
mikrobiologi dan biologi molekuler di UCF. Kebanyakan ilmuwan setuju
bahwa nikotin adalah zat yang menyebabkan orang menjadi kecanduan rokok.


6. Merokok mencegah kanker kulit yang langka
Seorang peneliti pada National Cancer Institute berpendapat bahwa
merokok dapat mencegah pengembangan kanker kulit yang menimpa terutama
orang tua di Mediterania wilayah Italia Selatan, Yunani dan Israel.
 Bukan berarti merokok disarankan untuk populasi itu, kata Dr James
Goedert, namun yang penting adalah merokok tembakau dapat membantu untuk
mencegah kanker yang langka bentuk. Dan ini adalah sebuah pengakuan
dari peneliti di National Cancer Institute bahwa ada manfaat dari rokok.


7. Merokok mengurangi resiko terkena kanker payudara
Sebuah penelitian baru dalam jurnal dari National Cancer Institute
(20 Mei 1998) melaporkan bahwa pembawa mutasi gen tertentu (yang
cenderung sebagai pembawa kanker payudara), yang merokok selama lebih
dari 4 pak tahun (yaitu, jumlah pak per hari dikalikan dengan jumlah
lamanya tahun merokok) menurut statistik ternyata mengalami penurunan
signifikan sebesar 54 persen dalam insiden kanker payudara bila
dibandingkan dengan pembawa yang tidak pernah merokok.  Salah satu
kekuatan dari penelitian ini adalah bahwa penurunan insiden melebihi
ambang 50 persen.

8. Nitrat Oksida dalam nikotin mengurangi radang usus besar
Nikotin mengurangi aktivitas otot melingkar, terutama melalui
pelepasan nitrat oksida, dalam kasus ulcerative colitis (UC) atau radang
usus. Temuan ini dapat menjelaskan beberapa terapi manfaat dari nikotin
(dan merokok) terhadap UC dan dapat menjelaskan mengenai disfungsi
penggerak kolon pada penyakit aktif.

9. Efek transdermal nikotin pada kinerja kognitif (berpikir) penderita Down Syndrome
Sebuah penelitian mengenai pengaruh rangsangan nikotin-agonis dengan 5
mg jaringan kulit implan, dibandingkan dengan plasebo (obat kontrol),
pada kinerja kognitif pada lima orang dewasa dengan gangguan.  Perbaikan
kemungkinan berhubungan dengan perhatian dan pengolahan informasi yang
terlihat pada pasien Down Syndrom dibandingkan dengan kontrol
kesehatannya.
Down syndrome adalah penyakit yang disebabkan adanya kelainan pada kromosom 21 pada pita q22 gen SLC5A3
yang dapat dikenal dengan melihat manifestasi klinis yang cukup
khas. Kelainan yang berdampak pada keterbelakangan pertumbuhan fisik dan
mental anak ini pertama kali dikenal pada tahun 1866 oleh Dr.John
Longdon Down.

10. Merokok baik bagi ibu hamil untuk mencegah hipertensi di masa kehamilan dan penularan ibu-anak infeksi Helicobacter pylori
Konsentrasi
urin cotinine (tembakau yang bermetabolis di dalam tubuh)
mengkonfirmasi berkurangnya risiko Preeklamsia dengan paparan tembakau
Eksposur.  Preeklamsia adalah kondisi medis di mana hipertensi muncul
dalam kehamilan (kehamilan dengan hipertensi) yang bekerjasama dengan
sejumlah besar protein dalam urin.  Studi ini, meskipun kecil,
menunjukkan salah satu manfaat dari merokok selama kehamilan. “Temuan
ini, diperoleh dengan menggunakan uji laboratorium, mengkonfirmasi
penurunan risiko preeklamsia berkembang dengan paparan tembakau (Am J
Obstet Gynecol 1999;. 181:1192-6.)
Sebuah
penelitian lain menemukan hubungan terbalik yang kuat antara ibu yang
merokok ibu dan infeksi Helicobacter pylori di antara anak-anak
prasekolah, di mana ditunjukkan kemungkinan bahwa penularan ibu-anak
berupa infeksi mungkin kurang efisien jika ibu merokok.  Untuk
mengevaluasi hipotesis ini lebih lanjut, dilakukan studi berbasis
populasi di mana infeksi H. pylori diukur dengan 13C-urea breath test
(tes kandungan urea pada nafas) dalam 947 anak-anak prasekolah dan
ibu-ibu mereka.  Kami memperoleh informasi rinci tentang faktor-faktor
risiko potensial untuk infeksi, termasuk ibu merokok, dengan menggunakan
kuesioner standar.  Secara keseluruhan, 9,8% (93 dari 947) dari
anak-anak dan 34,7% (329 dari 947) dari ibu-ibu telah terinfeksi.
 Prevalensi (rasio jumlah kejadian penyakit dengan unit pada populasi
beresiko) infeksi jauh lebih rendah di antara anak-anak dari ibu yang
tidak terinfeksi (1,9%) dibandingkan pada anak-anak dari ibu yang
terinfeksi (24,7%).  Ada hubungan terbalik yang kuat infeksi anak-anak
dengan ibu yang merokok (odds rasio atau penyimpangan disesuaikan =
0,24; interval kepercayaan 95% = 0,12-0,49) di antara anak-anak dari ibu
yang terinfeksi, tetapi tidak di antara anak-anak dari ibu yang
terinfeksi.  Hasil ini mendukung hipotesis dari peran utama untuk
penularan ibu-anak berupa infeksi H. pylori, yang mungkin menjadi kurang
efisien jika si ibu merokok.

Barangkali
anda mencurigai bahwa riset-riset ini didanai oleh perusahaan
rokok. Tapi riset-riset ini tidak pernah dipublikasikan secara meluas,
kalau memang bertujuan mendukung promosi rokok. Sedangkan informasi
ilmiah mengenai bahaya merokok sangat dominan. Sebetulnya propaganda
anti-rokok inilah yang perlu dicurigai sebagai upaya mendongkrak
penjualan obat-obatan dari perusahaan farmasi. Wallahua’lam.

Kamis, 11 Juli 2013

BIOGRAFI NABI MUHAMMAD SAW

Rasulullah Muhammad SAW Muhammad bin ‘Abdullāh (Arab: محمد بن عبدالله ) Muḥammad; dieja mʊħɑmmæd adalah pembawa ajaran Islam, dan diyakini oleh umat Muslim sebagai nabi Allah (Rasul) yang terakhir. Menurut biografi tradisional Muslimnya (dalam bahasa Arab disebut sirah), ia lahir diperkirakan sekitar 20 April 570/ 571, di Mekkahdan wafat pada 8 Juni 632 di Madinah. Kedua kota tersebut terletak di daerah Hejaz (Arab Saudi saat ini). Nabi Muhammad SAW adalah nabi pembawa risalah Islam, rasul terakhir penutup rangkaian nabi-nabi dan rasul-rasul Allah SWT di muka bumi. Ia adalah salah seorang dari yang tertinggi di antara 5 rasul yang termasuk dalam golongan Ulul Azmi atau mereka yang mempunyai keteguhan hati. Keempat rasul lainnya dalam Ulul Azmi tsb ialah : 1. Nabi Nuh As 2. Nabi Ibrahim As 3. Nabi Musa As 4. Nabi Isa As Michael H. Hart, dalam bukunya The 100, menetapkan Muhammad sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia. Menurut Hart, Muhammad adalah satu-satunya orang yang berhasil meraih keberhasilan luar biasa baik dalam hal agama maupun hal duniawi. Dia memimpin bangsa yang awalnya terbelakang dan terpecah belah, menjadi bangsa maju yang bahkan sanggup mengalahkan pasukan Romawi di medan pertempuran. KELAHIRAN Silsilah Nabi Muhammad SAWNabi Muhammad SAW adalah anggota Bani Hasyim, sebuah kabilah yang paling mulia dalam suku Quraisy yang mendominasi masyarakat Arab. Ayahnya bernama Abdullah bin Abdul Muthallib, seorang kepala suku Quraisy yang besar pengaruhnya. Ibunya bernama Aminah binti Wahab dari Bani Zuhrah. Baik dari garis ayah maupun garis ibu, silsilah Nabi Muhammad SAW sampai kepada Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW dikenal dengan nama Tahun Gajah, karena pada tahun itu terjadi peristiwa besar, yaitu datangnya pasukan gajah menyerbu Mekah dengan tujuan menghancurkan Ka’bah. Pasukan itu dipimpin oleh Abrahah, gubernur Kerajaan Habsyi di Yaman. Abrahah ingin mengambil alih kota Mekah dan Ka’bahnya sebagai pusat perekonomian dan peribadatan bangsa Arab. Ini sejalan dengan keingin Kaisar Negus dari Ethiopia untuk menguasai seluruh tanah Arab, yang bersama-sama dengan Kaisar Byzantium menghadapi musuh dari timur, yaitu Persia (Irak). Beberapa bulan setelah penyerbuan tentara gajah, Aminah melahirkan seorang bayi laki-laki, yang diberi nama Muhammad. Ia lahir pada malam menjelang dini hari Senin, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah, bertepatan dengan 20 April 570 M. Saat itu ayah Muhammad, Abdullah, telah meninggal dunia. Nama Muhammad diberikan oleh kakeknya, Abdul Muthallib. Nama itu sedikit ganjil di kalangan orang-orang Quraisy, karenanya mereka berkata kepada Abdul Muthallib, “Sungguh di luar kebiasaan, keluarga Tuan begitu besar, tetapi tak satu pun yang bernama demikian.” Abdul Muthallib menjawab, “Saya mengerti. Dia memang berbeda dari yang lain. Dengam nama ini saya ingin agar seluruh dunia memujinya.” Pada saat Muhammad berusia enam tahun, ibunya Aminah binti Wahab mengajaknya ke Yatsrib (Madinah) untuk mengunjungi keluarganya serta mengunjungi makam ayahnya. Namun dalam perjalanan pulang, ibunya jatuh sakit. Setelah beberapa hari, Aminah meninggal dunia di Abwa’ yang terletak tidak jauh dari Yatsrib, dan dikuburkan di sana. Setelah ibunya meninggal, Muhammad dijaga oleh kakeknya, ’Abd al-Muththalib. Setelah kakeknya meninggal, ia dijaga oleh pamannya, Abu Thalib. Ketika inilah ia diminta menggembala kambing-kambingnya disekitar Mekkah dan kerap menemani pamannya dalam urusan dagangnya ke negeri Syam (Suriah,Libanon dan Palestina). Adalah suatu kebiasaan di Mekah, anak yang baru lahir diasuh dan disusui oleh wanita desa dengan maksud supaya ia bisa tumbuh dalam pergaulan masyarakat yang baik dan udara yang lebih bersih. Saat Muhammad lahir, ibu ibu dari desa Sa’ad datang ke Mekah menghubungi keluarga-keluarga yang ingin menyusui anaknya. Desa Sa’ad terletak kira-kira 60 km dari Mekah, dekat kota Ta’if, suatu wilayah pegunungan yang sangat baik udaranya. di antara ibu-ibu tsb terdapat seorang wanita bernama Halimah binti Abu Du’aib as Sa’diyah. Keluarga Halimah tergolong miskin, karenanya ia sempat ragu untuk mengasuh Muhammad karena keluarga Aminah sendiri juga tidak terlalu kaya. Akan tetapi entah mengapa bayi Muhammad sangat menawan hatinya, sehingga akhirnya Halimah pun mengambil Muhammad SAW sebagai anak asuhnya. Ternyata kehadiran Muhammad SAW sangat membawa berkah pada keluarga Halimah. Dikisahkan bahwa kambing peliharaan Haris, suami Halimah, menjadi gemuk-gemuk dan menghasilkan susu lebih banyak dari biasanya. Rumput tempat menggembala kambing itu juga tumbuh subur. Kehidupan keluarga Halimah yang semula suram berubah menjadi bahagia dan penuh kedamaian. Mereka yakin sekali bahwa bayi dari Mekah yang mereka asuh itulah yang membawa berkah bagi kehidupan mereka. TANDA-TANDA KENABIAN Sejak kecil Muhammad SAW telah memperlihatkan keistimewaan yang sangat luar biasa. Usia 5 bulan ia sudah pandai berjalan, usia 9 bulan ia sudah mampu berbicara. Pada usia 2 tahun ia sudah bisa dilepas bersama anak-anak Halimah yang lain untuk menggembala kambing. Saat itulah ia berhenti menyusu dan karenanya harus dikembalikan lagi pada ibunya. Dengan berat hati Halimah terpaksa mengembalikan anak asuhnya yang telah membawa berkah itu, sementara Aminah sangat senang melihat anaknya kembali dalam keadaan sehat dan segar. Namun tak lama setelah itu Muhammad SAW kembali diasuh oleh Halimah karena terjadi wabah penyakit di kota Mekah. Dalam masa asuhannya kali ini, baik Halimah maupun anak-anaknya sering menemukan keajaiban di sekitar diri Muhammad SAW. Anak-anak Halimah sering mendengar suara yang member salam kepada Muhammad SAW, “Assalamu ‘Alaika ya Muhammad,” padahal mereka tidak melihat ada orang di situ. Dalam kesempatan lain, Dimrah, anak Halimah, berlari-lari sambil menangis dan mengadukan bahwa ada dua orang bertubuh besar-besar dan berpakaian putih menangkap Muhammad SAW. Halimah bergegas menyusul Muhammad SAW. Saat ditanyai, Muhammad SAW menjawab, “Ada 2 malaikat turun dari langit. Mereka memberikan salam kepadaku, membaringkanku, membuka bajuku, membelah dadaku, membasuhnya dengan air yang mereka bawa, lalu menutup kembali dadaku tanpa aku merasa sakit.” Halimah sangat gembira melihat keajaiban-keajaiban pada diri Muhammad SAW, namun karena kondisi ekonomi keluarganya yang semakin melemah, ia terpaksa mengembalikan Muhammad SAW, yang saat itu berusia 4 tahun, kepada ibu kandungnya di Mekah. Dalam usia 6 tahun, Nabi Muhammad SAW telah menjadi yatim-piatu. Aminah meninggal karena sakit sepulangnya ia mengajak Muhammad SAW berziarah ke makam ayahnya. Setelah kematian Aminah, Abdul Muthallib mengambil alih tanggung jawab merawat Muhammad SAW. Namun kemudian Abdul Muthallib pun meninggal, dan tanggung jawab pemeliharaan Muhammad SAW beralih pada pamannya, Abu Thalib. Ketika berusia 12 tahun, Abu Thalib mengabulkan permintaan Muhammad SAW untuk ikut serta dalam kafilahnya ketika ia memimpin rombongan ke Syam (Suriah). Usia 12 tahun sebenarnya masih terlalu muda untuk ikut dalam perjalanan seperti itu, namun dalam perjalanan ini kembali terjadi keajaiban yang merupakan tanda-tanda kenabian Muhammad SAW. Segumpal awan terus menaungi Muhammad SAW sehingga panas terik yang membakar kulit tidak dirasakan olehnya. Awan itu seolah mengikuti gerak kafilah rombongan Muhammad SAW. Bila mereka berhenti, awan itu pun ikut berhenti. Kejadian ini menarik perhatian seorang pendeta Kristen bernama Buhairah yang memperhatikan dari atas biaranya di Busra. Ia menguasai betul isi kitab Taurat dan Injil. Hatinya bergetar melihat dalam kafilah itu terdapat seorang anak yang terang benderang sedang mengendarai unta. Anak itulah yang terlindung dari sorotan sinar matahari oleh segumpal awan di atas kepalanya. “Inilah Roh Kebenaran yang dijanjikan itu,” pikirnya. Pendeta itu pun berjalan menyongsong iring-iringan kafilah itu dan mengundang mereka dalam suatu perjamuan makan. Setelah berbincang-bincang dengan Abu Thalib dan Muhammad SAW sendiri, ia semakin yakin bahwa anak yang bernama Muhammad adalah calon nabi yang ditunjuk oleh Allah SWT. Keyakinan ini dipertegas lagi oleh kenyataan bahwa di belakang bahu Muhammad SAW terdapat sebuah tanda kenabian. Saat akan berpisah dengan para tamunya, pendeta Buhairah berpesan pada Abu Thalib, “Saya berharap Tuan berhati-hati menjaganya. Saya yakin dialah nabi akhir zaman yang telah ditunggu-tunggu oleh seluruh umat manusia. Usahakan agar hal ini jangan diketahui oleh orang-orang Yahudi. Mereka telah membunuh nabi-nabi sebelumnya. Saya tidak mengada-ada, apa yang saya terangkan itu berdasarkan apa yang saya ketahui dari kitab Taurat dan Injil. Semoga tuan-tuan selamat dalam perjalanan.” Apa yang dikatakan oleh pendeta Kristen itu membuat Abu Thalib segera mempercepat urusannya di Suriah dan segera pulang ke Mekah Pada usia 20 tahun, Muhammad SAW mendirikan Hilful-Fudûl, suatu lembaga yang bertujuan membantu orang-orang miskin dan teraniaya. Saat itu di Mekah memang sedang kacau akibat perselisihan yang terjadi antara suku Quraisy dengan suku Hawazin. Melalui Hilful-Fudûl inilah sifat-sifat kepemimpinan Muhammad SAW mulai tampak. Karena aktivitasnya dalam lembaga ini, disamping ikut membantu pamannya berdagang, namanya semakin terkenal sebagai orang yang terpercaya. Relasi dagangnya semakin meluas karena berita kejujurannya segera tersiar dari mulut ke mulut, sehingga ia mendapat gelar Al- Amîn, yang artinya orang yang terpercaya. BERKENALAN DENGAN KHADIJAH Ketika Muhammad mencapai usia remaja dan berkembang menjadi seorang yang dewasa, ia mulai mempelajari ilmu bela diri dan memanah, begitupula dengan ilmu untuk menambah keterampilannya dalam berdagang. Perdagangan menjadi hal yang umum dilakukan dan dianggap sebagai salah satu pendapatan yang stabil. Muhammad menemani pamannya berdagang ke arah Utara dan secepatnya tentang kejujuran dan sifat dapat dipercaya Muhammad dalam membawa bisnis perdagangan telah meluas, membuatnya dipercaya sebagai agen penjual perantara barang dagangan penduduk Mekkah. Seseorang yang telah mendengar tentang anak muda yang sangat dipercaya dengan adalah seorang janda yang bernama Khadijah. Ia adalah seseorang yang memiliki status tinggi di suku Arab dan Khadijah sering pula mengirim barang dagangan ke berbagai pelosok daerah di tanah Arab. Reputasi Muhammad membuatnya terpesona sehingga membuat Khadijah memintanya untuk membawa serta barang-barang dagangannya dalam perdagangan. Muhammad dijanjikan olehnya akan dibayar dua kali lipat dan Khadijah sangat terkesan dengan sekembalinya Muhammad dengan keuntungan yang lebih dari biasanya. Akhirnya, Muhammad pun jatuh cinta kepada Khadijah kemudian mereka menikah. Pada saat itu Muhammad berusia 25 tahun sedangkan Khadijah mendekati umur 40 tahun, tetapi ia masih memiliki kecantikan yang menawan. Perbedaan umur yang sangat jauh dan status janda yang dimiliki oleh Khadijah, tidak menjadi halangan bagi mereka, karena pada saat itu suku Quraisy memiliki adat dan budaya yang lebih menekankan perkawinan dengan gadis ketimbang janda. Walaupun harta kekayaan mereka semakin bertambah, Muhammad tetap sebagai orang yang memiliki gaya hidup sederhana, ia lebih memilih untuk mendistribusikan keuangannya kepada hal-hal yang lebih penting. Ketika Muhammad berumur 35 tahun, ia bersatu dengan orang-orang Quraisy dalam perbaikan Ka’bah. Ia pula yang memberi keputusan di antara mereka tentang peletakan Hajar al-Aswad di tempatnya. Saat itu ia sangat masyhur di antara kaumnya dengan sifat-sifatnya yang terpuji. Kaumnya sangat mencintainya, hingga akhirnya ia memperoleh gelar Al-Amin yang artinya “orang yang dapat dipercaya”. Suatu ketika bangunan Ka’bah rusak karena banjir. Penduduk Mekah kemudian bergotong-royong memperbaiki Ka’bah. Saat pekerjaan sampai pada pengangkatan dan peletakan Hajar Aswad ke tempatnya semula, terjadi perselisihan. Masing-masing suku ingin mendapat kehormatan untuk melakukan pekerjaan itu. Akhirnya salah satu dari mereka kemudian berkata, “Serahkan putusan ini pada orang yang pertama memasuki pintu Shafa ini.” Mereka semua menunggu, kemudian tampaklah Muhammad SAW muncul dari sana. Semua hadirin berseru, “Itu dia al-Amin, orang yang terpercaya. Kami rela menerima semua keputusannya.” Setelah mengerti duduk perkaranya, Muhammad SAW lalu membentangkan sorbannya di atas tanah, dan meletakkan Hajar Aswad di tengah-tengah, lalu meminta semua kepala suku memegang tepi sorban itu dan mengangkatnya secara bersama-sama. Setelah sampai pada ketinggian yang diharapkan, Muhammad SAW meletakkan batu itu pada tempatnya semula. Dengan demikian selesailah perselisihan di antara suku-suku tsb dan mereka pun puas dengan cara penyelesaian yang sangat bijak itu. Diriwayatkan pula bahwa Muhammad percaya sepenuhnya dengan ke-Esaan Tuhan. Ia hidup dengan cara amat sederhana dan membenci sifat-sifat angkuh dan sombong. Ia menyayangi orang-orang miskin, para janda dan anak-anak yatim serta berbagi penderitaan dengan berusaha menolong mereka. Ia juga menghindari semua kejahatan yang biasa di kalangan bangsa Arab pada masa itu seperti berjudi, meminum minuman keras, berkelakuan kasar dan lain-lain, sehingga ia dikenal sebagai As-Saadiqyang memiliki arti “yang benar” KERASULAN Menjelang usianya yang ke-40, Nabi Muhammad SAW sering berkhalwat (menyendiri) ke Gua Hira, sekitar 6 km sebelah timur kota Mekah. Ia bisa berhari-hari bertafakur dan beribadah disana. Suatu ketika, pada tanggal 17 Ramadhan/6 Agustus 611 (Saat itu Muhammad SAW berusia 40 tahun 6 bulan 8 hari menurut perhitungan tahun kamariah (penanggalan berdasarkan bulan), atau 39 tahun 3 bulan 8 hari menurut perhitungan tahun syamsiah (penanggalan berdasarkan matahari). Dengan turunnya 5 ayat pertama ini, berarti Muhammad SAW telah dipilih oleh Allah SWT sebagai rasul), beliau melihat cahaya terang benderang memenuhi ruangan gua itu. Tiba-tiba Malaikat Jibril muncul di hadapannya sambil berkata, “Iqra’ (bacalah).” Lalu Muhammad SAW menjawab, “Mâ anâ bi qâri’ (saya tidak dapat membaca).” Mendengar jawaban Muhammad SAW, Jibril lalu memeluk tubuh Muhammad SAW dengan sangat erat, lalu melepaskannya dan kembali menyuruh Muhammad SAW membaca. Namun setelah dilakukan sampai 3 kali dan Muhammad SAW tetap memberikan jawaban yang sama, Malaikat Jibril kemudian menyampaikan wahyu Allah SWT pertama, yang artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Menciptakan. Ia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah yang Paling Pemurah. yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. 96: 1-5) Ini merupakan wahyu pertama yang diterima oleh Muhammad. Ketika itu ia berusia 40 tahun 6 bulan 8 hari menurut perhitungan tahun kamariah (penanggalan berdasarkan bulan), atau 39 tahun 3 bulan 8 hari menurut perhitungan tahun syamsiah (penanggalan berdasarkan matahari). Setelah pengalaman luar biasa di Gua Hira tersebut, dengan rasa ketakutan dan cemas Muhammad pulang ke rumah dan berseru pada Khadijah untuk menyelimutinya, karena ia merasakan suhu tubuhnya panas dan dingin secara bergantian. Setelah hal itu lewat, ia menceritakan pengalamannya kepada sang istri. Untuk lebih menenangkan hati suaminya, Khadijah mengajak Muhammad mendatangi saudara sepupunya, yaitu Waraqah bin Naufal, yang banyak mengetahui nubuat tentang nabi terakhir dari kitab-kitab suci Kristen dan Yahudi. Mendengar cerita yang dialami Muhammad, Waraqah pun berkata, bahwa ia telah dipilih oleh Tuhan menjadi seorang nabi. Kemudian Waraqah menyebutkan bahwa An-Nâmûs al-Akbar (Malaikat Jibril) telah datang kepadanya, kaumnya akan mengatakan bahwa ia seorang penipu, mereka akan memusuhi dan melawannya. Wahyu turun kepadanya secara berangsur-angsur dalam jangka waktu 23 tahun. Wahyu tersebut telah diturunkan menurut urutan yang diberikan Muhammad, dan dikumpulkan dalam kitab bernama Al Mushaf yang juga dinamakan Al-Qurʾān (bacaan). Kebanyakan ayat-ayatnya mempunyai arti yang jelas, sedangkan sebagiannya diterjemahkan dan dihubungkan dengan ayat-ayat yang lain. Sebagian ayat-ayat adapula yang diterjemahkan oleh Muhammad sendiri melalui percakapan, tindakan dan persetujuannya, yang terkenal dengan nama As-Sunnah. Al-Quran dan As-Sunnah digabungkan bersama merupakan panduan dan cara hidup bagi “mereka yang menyerahkan diri kepada Allah”, yaitu penganut agama Islam. DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW Wahyu berikutnya adalah surat Al-Muddatsir: 1-7,: Al-MudatsirHai orang yang berkemul (berselimut)(1), bangunlah, lalu berilah peringatan!(2) dan Rabbmu agungkanlah(3), dan pakaianmu bersihkanlah(4), dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah(5), dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.(6) Dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabarlah.(7) (QS. 74: 1-7) Dengan turunnya surat Al-Muddatsir ini, mulailah Rasulullah SAW berdakwah. Mula-mula ia melakukannya secara sembunyi-sembunyi di lingkungan keluarga dan rekan-rekannya. Orang pertama yang menyambut dakwahnya adalah Khadijah, istrinya. Dialah yang pertama kali masuk Islam. Menyusul setelah itu adalah Ali bin Abu Thalib, saudara sepupunya yang kala itu baru berumur 10 tahun, sehingga Ali menjadi lelaki pertama yang masuk Islam. Kemudian Abu Bakar, sahabat karibnya sejak masa kanak-kanak. Baru kemudian diikuti oleh Zaid bin Haritsah, bekas budak yang telah menjadi anak angkatnya, dan Ummu Aiman, pengasuh Nabi SAW sejak ibunya masih hidup. Abu Bakar sendiri kemudian berhasil mengislamkan beberapa orang teman dekatnya, seperti, Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’d bin Abi Waqqas, dan Talhah bin Ubaidillah. Dari dakwah yang masih rahasia ini, belasan orang telah masuk Islam. Setelah beberapa lama Nabi SAW menjalankan dakwah secara diam-diam, turunlah perintah agar Nabi SAW menjalankan dakwah secara terang-terangan. Mula-mula ia mengundang kerabat karibnya dalam sebuah jamuan. Pada kesempatan itu ia menyampaikan ajarannya. Namun ternyata hanya sedikit yang menerimanya. Sebagian menolak dengan halus, sebagian menolak dengan kasar, salah satunya adalah Abu Lahab. Langkah dakwah seterusnya diambil Nabi Muhammad SAW dalam pertemuan yang lebih besar. Ia pergi ke Bukit Shafa, sambil berdiri di sana ia berteriak memanggil orang banyak. Karena Muhammad SAW adalah orang yang terpercaya, penduduk yakin bahwa pastilah terjadi sesuatu yang sangat penting, sehingga mereka pun berkumpul di sekitar Nabi SAW. Untuk menarik perhatian, mula-mula Nabi SAW berkata, “Saudara-saudaraku, jika aku berkata, di belakang bukit ini ada pasukan musuh yang siap menyerang kalian, percayakah kalian?” Dengan serentak mereka menjawab, “Percaya, kami tahu saudara belum pernah berbohong. Kejujuran saudara tidak ada duanya. Saudara yang mendapat gelar al-Amin.” Kemudian Nabi SAW meneruskan, “Kalau demikian, dengarkanlah. Aku ini adalah seorang nazir (pemberi peringatan). Allah telah memerintahkanku agar aku memperingatkan saudara-saudara. Hendaknya kamu hanya menyembah Allah saja. Tidak ada Tuhan selain Allah. Bila saudara ingkar, saudara akan terkena azabnya dan saudara nanti akan menyesal. Penyesalan kemudian tidak ada gunanya.” MENDAPATKAN PENGIKUT Selama tiga tahun pertama, Muhammad hanya menyebarkan agama terbatas kepada teman-teman dekat dan kerabatnya. Kebanyakan dari mereka yang percaya dan meyakini ajaran Muhammad adalah para anggota keluarganya serta golongan masyarakat awam, antara lainKhadijah, Ali, Zaid bin Haritsah dan Bilal. Namun pada awal tahun 613, Muhammad mengumumkan secara terbuka agama Islam. Banyak tokoh-tokoh bangsa Arab seperti Abu Bakar, Utsman bin Affan, Zubair bin Al Awwam, Abdul Rahman bin Auf, Ubaidah bin Harits, Amr bin Nufail masuk Islam dan bergabung membela Muhammad. Kesemua pemeluk Islam pertama itu disebut dengan As-Sabiqun al-Awwalun. Akibat halangan dari masyarakat jahiliyyah di Mekkah, sebagian orang Islam disiksa, dianiaya, disingkirkan dan diasingkan. Penyiksaan yang dialami hampir seluruh pengikutnya membuat lahirnya ide berhijrah (pindah) ke Habsyah. Negus, raja Habsyah, memperbolehkan orang-orang Islam berhijrah ke negaranya dan melindungi mereka dari tekanan penguasa di Mekkah. Muhammad sendiri, pada tahun 622 hijrah ke Madinah, kota yang berjarak sekitar 200 mil (320 km) di sebelah Utara Mekkah. HIJRAH KE MADINAH Di Mekkah terdapat Ka’bah yang telah dibangun oleh NabiIbrahim. Masyarakat jahiliyah Arab dari berbagai suku berziarah ke Ka’bah dalam suatu kegiatan tahunan, dan mereka menjalankan berbagai tradisi keagamaan mereka dalam kunjungan tersebut. Muhammad mengambil peluang ini untuk menyebarkan Islam. Di antara mereka yang tertarik dengan seruannya ialah sekumpulan orang dari Yathrib (dikemudian hari berganti nama menjadi Madinah). Mereka menemui Muhammad dan beberapa orang Islam dari Mekkah di suatu tempat bernamaAqabah secara sembunyi-sembunyi. Setelah menganut Islam, mereka lalu bersumpah untuk melindungi Islam, Rasulullah (Muhammad) dan orang-orang Islam Mekkah. Tahun berikutnya, sekumpulan masyarakat Islam dari Yathrib datang lagi ke Mekkah. Mereka menemui Muhammad di tempat mereka bertemu sebelumnya. Abbas bin Abdul Muthalib, yaitu pamannya yang saat itu belum menganut Islam, turut hadir dalam pertemuan tersebut. Mereka mengundang orang-orang Islam Mekkah untuk berhijrah ke Yathrib. Muhammad akhirnya setuju untuk berhijrah ke kota itu. Mengetahui bahwa banyak masyarakat Islam berniat meninggalkan Mekkah, masyarakat jahiliyah Mekkah berusaha menghalang-halanginya, karena beranggapan bahwa bila dibiarkan berhijrah ke Yathrib, orang-orang Islam akan mendapat peluang untuk mengembangkan agama mereka ke daerah-daerah yang lain. Setelah berlangsung selama kurang lebih dua bulan, masyarakat Islam dari Mekkah pada akhirnya berhasil sampai dengan selamat ke Yathrib, yang kemudian dikenal sebagai Madinah atau “Madinatun Nabi” (kota Nabi). Di Madinah, pemerintahan (kalifah) Islam diwujudkan di bawah pimpinan Muhammad. Umat Islam bebas beribadah (salat) dan bermasyarakat di Madinah. Quraish Makkah yang mengetahui hal ini kemudian melancarkan beberapa serangan ke Madinah, akan tetapi semuanya dapat diatasi oleh umat Islam. Satu perjanjian damai kemudian dibuat dengan pihak Quraish. Walaupun demikian, perjanjian itu kemudian diingkari oleh pihak Quraish dengan cara menyerang sekutu umat Islam PENAKLUKAN MEKKAH Pada tahun ke-8 setelah hijrah ke Madinah, Muhammad berangkat kembali ke Makkah dengan pasukan Islam sebanyak 10.000 orang. Penduduk Makkah yang khawatir kemudian setuju untuk menyerahkan kota Makkah tanpa perlawanan, dengan syarat Muhammad kembali pada tahun berikutnya. Muhammad menyetujuinya, dan ketika pada tahun berikutnya ia kembali maka ia menaklukkan Mekkah secara damai. Muhammad memimpin umat Islam menunaikan ibadah haji, memusnahkan semua berhala yang ada di sekeliling Ka’bah, dan kemudian memberikan amnesti umum dan menegakkan peraturan agama Islam di kota Mekkah PENYEBARAN ISLAM KE NEGERI-NEGERI LAIN Gencatan senjata dengan penduduk Mekah memberi kesempatan kepada Nabi SAW untuk mengalihkan perhatian ke berbagai negeri-negeri lain sambil memikirkan bagaimana cara mengislamkan mereka. Salah satu cara yang ditempuh oleh Nabi SAW kemudian adalah dengan mengirim utusan dan surat ke berbagai kepala negara dan pemerintahan.Di antara raja-raja yang dikirimi surat oleh Nabi SAW adalah raja Gassan dari Iran, raja Mesir, Abessinia, Persia, dan Romawi. Memang dengan cara itu tidak ada raja-raja yang masuk Islam, namun setidaknya risalah Islam sudah sampai kepada mereka. Reaksi para raja itu pun ada yang menolak dengan baik dan simpatik sambil memberikan hadiah, ada pula yang menolak dengan kasar. Raja Gassan termasuk yang menolak dengan kasar. Utusan yang dikirim Nabi SAW dibunuhnya dengan kejam. Sebagai jawaban, Nabi SAW kemudian mengirim pasukan perang sebanyak 3.000 orang dibawah pimpinan Zaid bin Haritsah. Peperangan terjadi di Mu’tah, sebelah utara Semenanjung Arab. Pasukan Islam mendapat kesulitan menghadapi tentara Gassan yang mendapat bantuan langsung dari Romawi. Beberapa syuhada gugur dalam pertempuran melawan pasukan berkekuatan ratusan ribu orang itu. di antara mereka yang gugur adalah Zaid bin Haritsah sendiri, Ja’far bin Abu Thalib, dan Abdullah bin Abi Rawahah. Melihat kekuatan yang tidak seimbang itu, Khalid bin Walid, bekas panglima Quraisy yang sudah masuk Islam, mengambil alih komando dan memerintahkan pasukan Islam menarik diri dan kembali ke Madinah. Perang melawan tentara Gassan dan pasukan Romawi ini disebut dengan Perang Mu’tah. KEMBALI KE MEKKAH (Futuh Mekah) Selama 2 tahun Perjanjian Hudaibiyah, dakwah Islam sudah menjangkau Semenanjung Arab dan mendapat tanggapan yang positif. Hampir seluruh Semenanjung Arab, termasuk suku-suku yang paling selatan, telah menggabungkan diri ke dalam Islam. Hal ini membuat orang-orang Mekah merasa terpojok. Perjanjian Hudaibiyah ternyata telah menjadi senjata bagi umat Islam untuk memperkuat dirinya. Oleh karena itu secara sepihak orang-orang Quraisy membatalkan perjanjian tsb. Mereka menyerang Bani Khuza’ah yang berada di bawah perlindungan Islam hanya karena kabilah ini berselisih dengan Bani Bakar yang menjadi sekutu Quraisy. Sejumlah orang Kuza’ah mereka bunuh dan sebagian lainnya dicerai-beraikan. Bani Khuza’ah segera mengadu pada Nabi Muhammad SAW dan meminta keadilan. Rasulullah SAW segera bertolak dengan 10.000 orang tentara untuk melawan kaum musyrik Mekah itu. Kecuali perlawanan kecil dari kaum Ikrimah dan Safwan, Nabi Muhammad SAW tidak mengalami kesukaran memasuki kota Mekah. Nabi SAW memasuki kota itu sebagai pemenang. Pasukan Islam memasuki kota Mekah tanpa kekerasan. Mereka kemudian menghancurkan patung-patung berhala di seluruh negeri. Kini apa yang ditugaskan kepada Nabi Muhammad SAW sudah tercapai. Di tengah-tengah suatu bangsa yang tenggelam dalam kebiadaban, telah lahir seorang nabi. Ia telah berhasil membacakan ayat-ayat Allah SWT kepada mereka dan mensucikannya serta mengajarkan kitab dan hikmah kepada mereka, padahal sebelumnya mereka berada dalam kegelapan yang pekat. Pada awalnya Nabi Muhammad SAW mendapati mereka bergelimang dalam ketakhyulan yang merendahkan derajat manusia, lalu ia mengilhami mereka dengan kepercayaan kepada satu-satunya Tuhan yang Maha Besar dan Maha Kasih Sayang. Saat mereka bercerai-berai dan terlibat dalam peperangan yang seolah tak ada habisnya, dipersatukannya mereka dalam ikatan persaudaraan. Kalau sebelumnya Semenanjung Arab berada dalam kegelapan rohani, maka ia datang membawa cahaya terang-benderang untuk menyinari rohani mereka. Pekerjaannya selesai sudah, dan seluruhnya dikerjakan dengan baik semasa hidupnya. Disinilah letak keunggulan Nabi Muhammad SAW dibanding dengan nabi-nabi yang lain. IBADAH HAJI TERAKHIR Pada tahun 10 H, Nabi SAW mengerjakan ibadah haji yang terakhir, yang disebut juga dengan haji wada’. Pada tanggal 25 Zulkaidah 10/23 Februari 632 Rasulullah SAW meninggalkan Madinah. Sekitar seratus ribu jemaah turut menunaikan ibadah haji bersamanya. Pada waktu wukuf di Arafah, Nabi Muhammad SAW menyampaikan khotbahnya yang sangat bersejarah. Isi khotbah itu antara lain: “larangan menumpahkan darah kecuali dengan haq (benar) dan mengambil harta orang lain dengan bathil (salah), karena nyawa dan harta benda adalah suci, larangan riba dan larangan menganiaya perintah untuk memperlakukan para istri dengan baik serta lemah lembut perintah menjauhi dosa semua pertengkaran di antara mereka di zaman Jahiliah harus dimaafkan pembalasan dengan tebusan darah sebagaimana yang berlaku di zaman Jahiliyah tidak lagi dibenarkan persaudaraan dan persamaan di antara manusia harus ditegakkan hamba sahaya harus diperlakukan dengan baik, yaitu mereka memakan apa yang dimakan majikannya dan memakai apa yang dipakai majikannya dan yang terpenting, bahwa umat Islam harus selalu berpegang teguh pada dua sumber yang tak akan pernah usang, yaitu Al-Qur’an dan Sunah Nabi SAW. Setelah itu Nabi SAW bertanya kepada seluruh jemaah, “Sudahkan aku menyampaikan amanat Allah, kewajibanku, kepada kamu sekalian?” Jemaah yang ada di hadapannya segera menjawab, “Ya, memang demikian adanya.” Nabi Muhammad SAW kemudian menengadah ke langit sambil mengucapkan, “Ya Allah, Engkaulah menjadi saksiku.” Dengan kata-kata seperti itu Rasulullah SAW mengakhiri khotbahnya. KEMBALI KE MADINAH Setelah upacara haji yang lain disempurnakan, Nabi Muhammad SAW kembali ke Madinah. Disinilah ia menghabiskan sisa hidupnya. Ia mengatur organisasi masyarakat di kabilah-kabilah yang telah memeluk Islam dan menjadi bagian dari persekutuan Islam. Petugas keamanan dan para da’i dikirimnya ke berbagai daerah untuk menyebarkan ajaran-ajaran Islam, mengatur peradilan Islam, dan memungut zakat. Salah seorang di antara petugas itu adalah Mu’az bin Jabal yang dikirim oleh Nabi SAW ke Yaman. Ketika itulah hadist Mu’az yang terkenal muncul, yaitu perintah Nabi SAW agar Mu’az menggunakan pertimbangan akalnya dalam mengatur persoalan-persoalan agama apabila ia tidak menemukan petunjuk dalam Al-Qur’an dan hadist Nabi SAW. Pada saat-saat itu pula wahyu Allah SWT yang terakhir turun: Al Maidah ayat 3 “… Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nimat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu. Maka barang siapa terpaksa[398] karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. …” (QS. 5: 3) Mendengar ayat ini, banyak orang yang bergembira karena telah sempurna agama mereka, tetapi ada pula yang menangis, seperti Abu Bakar, karena mengetahui bahwa ayat itu jelas merupakan pertanda berakhirnya tugas Rasulullah SAW. WAFATNYA NABI MUHAMMAD SAW. Makam Rasulullah Muhammad SAW Dua bulan setelah menunaikan ibadah haji wada’ di Madinah, Nabi SAW sakit demam. Meskipun badannya mulai lemah, ia tetap memimpin shalat berjamaah. Baru setelah kondisinya tidak memungkinkan lagi, yaitu 3 hari menjelang wafatnya, ia tidak mengimami shalat berjamaah. Sebagai gantinya ia menunjuk Abu Bakar sebagai imam shalat. Tenaganya dengan cepat semakin berkurang. Pada tanggal 13 Rabiulawal 11/8 Juni 632, Nabi Muhammad SAW menghembuskan nafasnya yang terakhir di rumah istrinya, Aisyah binti Abu Bakar, dengan wasiat terakhir, “Ingatlah shalat, dan taubatlah…”. MU’JIZAT Seperti nabi dan rasul sebelumnya, Muhammad diberikan irhasat(pertanda) akan datangnya seorang nabi, seperti yang diyakini oleh umat Muslim telah dikisahkan dalam beberapan kitab suciajaran samawi, kemudian dikisahkan pula terjadi pertanda pada masa di dalam kandungan, masa kecil dan remaja. Kemudian Muhammad diyakini diberikan mukjizat selama kenabiannya. Dalam syariat Islam, mukjizat terbesar Muhammad adalah Al-Qur’an, karena pada masa itu bangsa Arab memiliki kebudayaan sastra yang cukup tinggi dan Muhammad sendiri adalah orang yang buta huruf, yang diyakini oleh umat muslim mustahil dikarang olehnya. Selain itu, Muhammad juga diyakini pula oleh umat Islam pernah membelah bulan pada masa penyebaran Islam di Mekkah dan melakukan Isra dan Mi’raj dalam waktu tidak sampai satu hari. Kemampuan lain yang dimiliki Muhammad adalah kecerdasannya mengenai ilmu ketauhidan. PERISTIWA ISRA MI’RAJ Pijakan Rasulullah Muhammad SAWPada tahun ke-10 kenabian, Nabi Muhammad SAW mengalami peristiwa Isra Mi’raj. Isra, yaitu perjalanan malam hari dari Masjidilharam di Mekah ke Masjidil aqsha di Yerusalem. Mi’raj, yaitu kenaikan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil aqsha ke langit melalui beberapa tingkatan, terus menuju Baitulmakmur, sidratulmuntaha, arsy (takhta Tuhan), dan kursi (singgasana Tuhan), hingga menerima wahyu di hadirat Allah SWT. Dalam kesempatannnya berhadapan langsung dengan Allah SWT inilah Nabi Muhammad SAW menerima perintah untuk mendirikan sholat 5 waktu sehari semalam. Peristiwa Isra Mi’raj ini terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Isrâ’ ayat 1. Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS 17 :1) CIRI-CIRI FISIK MUHAMMAD SAW Berikut adalah penggambaran sosok Muhammad dari salah satu istinya yaitu Aisyah, sepupunya Ali bin Abi Thalib, para sahabatnya, serta orang terakhir yang masih hidup yang kala itu sempat melihat sosoknya secara langsung, yaitu Abu Taufik. Aisyah dan Ali bin Abi Thalib telah merincikan ciri-ciri fisik dan penampilan keseharian Muhammad, di antaranya adalah rambut ikal berwarna sedikit kemerahan, terurai hingga bahu. Kulitnya putih kemerah-merahan, wajahnya cenderung bulat dengan sepasang matanya hitam dan bulu mata yang panjang. Tidak berkumis dan berjanggut sepanjang sekepalan telapak tangannya. Tulang kepala besar dan bahunya lebar. Tubuhnya tidak terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek, berpostur kekar sangat indah dan pas dikalangan kaumnya. Bulu badannya halus memanjang dari pusar hingga dada. Jemari tangan dan kaki tebal dan lentik memanjang.[12] Apabila berjalan cenderung cepat dan tidak pernah menancapkan kedua telapak kakinya, beliau melangkah dengan cepat dan pasti. Apabila menoleh, ia menolehkan wajah dan badannya secara bersamaan. Di antara kedua bahunya terdapat tanda kenabian dan memang ia adalah penutup para nabi. Ia adalah orang yang paling dermawan, paling berlapang dada, paling jujur ucapannya, paling bertanggung jawab dan paling baik pergaulannya. Siapa saja yang bergaul dengannya pasti akan menyukainya. Setiap orang yang bertemu Muhammad pasti akan berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang sepertinya, baik sebelum maupun sesudahnya.” Begitulah Muhammad di mata khalayak, akhlaknya yang sangat mulia digambarkan dalam salah satu ayat Al-Qur’an, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al-Qalam: 4) Dalam hadits riwayat Bukhari, Muhammad digambarkan sebagai orang yang berkulit putih dan berjenggot hitam dengan uban. Dalam satu hadits diterangkan mengenai corak fisik Muhammad, yaitu ia bertubuh sedang, kulitnya berwarna cerah tidak terlalu putih dan tidak pula hitam. Rambutnya berombak. Ketika Muhammad wafat uban yang tumbuh di rambut dan janggutnya masih sedikit. Anas juga mengatakan bahwa Muhammad memiliki tinggi sedang, tidak tinggi sekali ataupun pendek, tegap. Bila ia berjalan sangat gesit dengan tubuh condong sedikit kedepan. Bara’a bin Aazib mengatakan bahwa Muhammad memiliki tinggi yang sedang, dengan tulang pundak bidang. Rambutnya cukup tebal, panjang sampai batas telinga Ali bin Abi Thalib meriwayatkan bahwa Muhammad tidaklah tinggi dan juga pendek. Telapak tangan dan kaki beliau padat berisi. Ia memiliki kepala yang agak besar dan kuat. Bulu-bulu halus tumbuh di dadanya dan terus kebawah sampai pusar. Jika berjalan, melangkahnya seolah-olah seperti turun (meloncat) dari suatu ketinggian. Ditambahkan pula bahwa Ali belum pernah melihat orang sepertinya di antara sahabatnya sesudah wwafatnya Muhammad. Ali menambahkan bahwa Muhammad memiliki rambut lurus sedikit berombak. Tidak gemuk dan tidak terlalu besar, berperawak baik dan tegak. Warna kulit cerah, matanya hitam dengan bulu mata yang panjang. Persendian tulang yang kuat dada, tangan dan kakinya kekar. Tidak memiliki bulu yang tebal tetapi hanya tipis dari dada sampai pusarnya. Jika berbicara dengan seseorang, maka ia akan menghadapkan wajahnya keorang tersebut dengan penuh perhatian. Di antara bahunya ada tanda kenabian. Muhammad orang yan baik hatinya dan paling jujur, orang yang paling dirindukan dan sebaik-baiknya keturunan. Siapa saja yang mendekati dan bergaul dengannya maka akan langsung merasa terhormat, khidmat, menghargai dan mencintainya. Hind bin Abi Halah mendapat cerita dari Hasan bin Ali mengatakan bahwa Muhammad memiliki pribadi mulia dan sangat agung jika orang melihatnya. Wajahnya bercahaya seperti bulan purnama. Ia sedikit lebih tinggi dari rata-rata orang tapi lebih pendek dari orang yang jangkung. Kepalanya lebih besar dari rata-rata orang dan rambutnya agak keriting (berombak) agak panjang hingga mencapai kuping dan dibelah tengah. Kulit berwarna cerah dahinya agak lebar. Alis matanya melengkung hitam dan tebal, di antara alisnya nampak urat darah halus yang berdenyut bila sedang emosi. Hidungnya agak melengkung dan mengkilap jika terkena cahaya serta tampak agak menonjol jika pertama kali melihatnya padahal sebenarnya tidak. Berjanggut tipis tapi penuh rata sampai pipi. Mulutnya sedang, giginya putih cemerlang dan agak renggang. Pundaknya bagus dan kokoh, seperti dicor perak. Anggota tubuh lainnya normal dan proporsional. Dada dan pinggangnya seimbang dengan ukurannya. Tulang belikatnya cukup lebar, bagian-bagian tubuhnya tidak tertutup bulu lebat, bersih dan bercahaya. Kecuali bulu halus yang tumbuh dari dada hingga pusar. Lengan dan dada bagian atas berbulu. Pergelangan tangannya cukup panjang, telapak tangannya agak lebar serta tangan dan kakinya berisi, jari-jari tangan dan kaki cukup langsing. Jika berjalan agak condong kedepan melangkah dengan anggun serta berjalan dengan cepat dan sering melihat kebawah dari pada keatas. Jika berhadapan dengan orang maka ia memandang orang itu dengan penuh perhatian dan tidak pernah melototi seseorang dan pandangannya menyejukkan. Selalu berjalan agak dibelakang, terutama jika saat melakukan perjalanan jarak jauh dan ia selalu menyapa orang lain terlebih dahulu. Dari kisah Jabir bin Samurah meriwayatkan bahwa Muhammad memiliki mulut yang agak lebar, di matanya terlihat juga garis-garis merahnya, serta tumitnya langsing. Jabir (ra) juga meriwayatkan bahwa ia berkesempatan melihat Muhammad di bawah sinar rembulan, ia juga memperhatikan pula rembulan tersebut, baginya Muhammad lebih indah dari rembulan tersebut. Abu Ishaq mengemukakan bahwa, Bara’a bin Aazib pernah berkata, bahwa rona Muhammad lebih mirip purnama yang cerah. Abu Hurairah mengatakan bahwa Muhammad sangatlah rupawan, seperti dibentuk dari perak. Rambutnya cenderung berombak dan Abu Hurairah belum pernah melihat orang yang lebih baik dari dan lebih tampan dari Muhammad, rona mukanya secemerlang matahari dan tidak pernah melihat orang yang secepatnya. Seolah-olah tanah digulung oleh langkah-langkah Muhammad jika sedang berjalan. Dikatakan jika Abu Hurairah dan yang lainnya berusaha mengimbangi jalannya Muhammad dan nampak ia seperti berjalan santai saja. Jabir bin Abdullah mengatakan, Muhammad pernah bersabda bahwa ia pernah menyaksikan gambaran tentang para nabi. Di antaranya adalah Musa berperawakan langsing seperti orang-orang dari Suku Shannah, dan melihat Isa yang mirip salah seorang sahabatnya yang bernamaUrwah bin Mas’ud dan ketika melihat Ibrahim dikatakan sangat mirip dengan dirinya sendiri (Muhammad), kemudian Muhammad juga mengatakan bahwa ia pernah melihat Malaikat Jibrilyang mirip dengan Dehya Kalbi. Said al Jahiri mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Taufik berkata bahwa pada saat ini tidak ada lagi yang masih hidup orang yang pernah melihat secara langsung Muhammad kecuali dirinya sendiri dan Muhammad memiliki roman muka sangat cerah dan perawakanna sangat baik. Ibnu Abbas mengatakan bahwa gigi depan Muhammad agak renggang tidak terlalu rapat dan jika bericara nampak putih berkilau. PERNIKAHAN Selama hidupnya Muhammad menikahi 12 orang wanita (terdapat perbedaan pendapat mengenai hal ini). Pada umur 25 Tahun ia menikah dengan Khadijah, yang berlangsung selama 25 tahun hingga Khadijah wafat. Pernikahan ini digambarkan sangat bahagia, sehingga saat meninggalnya Khadijah (yang bersamaan dengan tahun meninggalnya Abu Thalib pamannya) disebut sebagai tahun kesedihan. Semua istri-istri nabi tersebut disebut sebagai Ummul Mukminin (ibu dari orang-orang yang beriman). Sebutan tsb menunjukkan bahwa para istri Nabi SAW adalah wanita-wanita yang terpilih dan dimuliakan Allah SWT. Makan Siti Khadijah raSepeninggal Khadijah, Muhammad disarankan oleh Khawla binti Hakim, bahwa sebaiknya ia menikahi Sawda binti Zama (seorang janda) atau Aisyah (putri Abu Bakar, dimana Muhammad akhirnya menikahi keduanya. Kemudian setelah itu Muhammad tercatat menikahi beberapa wanita lagi sehingga mencapai total sebelas orang, dimana sembilan di antaranya masih hidup sepeninggal Muhammad. Para ahli sejarah antara lain Watt dan Esposito berpendapat bahwa sebagian besar perkawinan itu dimaksudkan untuk memperkuat ikatan politik (sesuai dengan budaya Arab), atau memberikan penghidupan bagi para janda (saat itu janda lebih susah untuk menikah karena budaya yang menekankan perkawinan dengan perawan). Selain itu Nabi SAW menikahi para wanita itu karena beberapa alasan, antara lain untuk melindungi mereka dari tekanan kaum musyrikin, membebaskannya dari status tawanan perang, dan mengangkat derajatnya. Tidak jarang pernihakan yang dilakukan Nabi SAW menciptakan hubungan perdamaian antara dua suku yang sebelumnya saling bermusuhan. Istri dan anak Rasulullah SAW Berikut ini adalah daftar untuk Istri – Istri dan Anak – Anak / Keturunan Rasulullah SAW Khadijah binti Khuwailid r.a. Saudah binti Zum’ah r.a. Aisyah binti Abu Bakar r.a. Hafsah binti Omar Al-Khattab r.a. Zainab bin Jahsyin r.a. Zainab binti Khuzaimah r.a. Ummu Salamah (Hindon binti Abi Umaiyah) r.a. Ummu Habibah (Ramlah binti Abi Sufian) r.a. Juwairiyah binti Al-Harith r.a. Maimunah binti Al-Harith Safiah binti Hoiyi bin Ahtab r.a. Mariyah Al-Qibtiyah Hanya seorang sahaja isteri Rasulullah yang gadis ketika berkahwi dengan baginda iaitu Aisyah binti Abu Bakar Al-Siddiq. Manakala yang lainnya adalah janda atau balu yang kematian suami. Dan Beberapa dari istri Nabi SAW ini juga menjadi periwayat hadist, yaitu Aisyah,Hafsah, dan Zainab binti Jahsy. Anak – Anak Rasulullah Al-Qasim Abdullah Ibrahim Zainab Ruqaiyah Ummu Kalthum Fatimah Anak Rasulullah dengan Mariyah Al-Qibtiyah : Ibrahim Kronologi Kehidupan Muhammad Tahun Peristiwa penting dalam kehidupan Muhammad 569 Meninggalnya ayah, Abdullah 570 Tanggal lahir (perkiraan), 20 April: Makkah 570 Tahun Gajah, gagalnya Abrahah menyerang Mekkah 576 Meninggalnya ibu, Aminah 578 Meninggalnya kakek, Abdul Muthalib 583 Melakukan perjalanan dagang ke Suriah 595 Bertemu dan menikah dengan Khadijah 610 Wahyu pertama turun dan menjadi Nabi sekaligus Rasul, kemudian mendapatkan sedikit pengikut: As-Sabiqun al-Awwalun 613 Menyebarkan Islam kepada umum: Makkah 614 Mendapatkan banyak pengikut: 615 Hijrah pertama ke Habsyah 616 Awal dari pemboikotan Quraish terhadap Bani Hasyim 619 Akhir dari pemboikotan Quraish terhadap Bani Hasyim 619 Tahun kesedihan: Khadijah dan Abu Thalib meninggal 620 Dihibur oleh Allah melalui Malaikat Jibril dengan cara Isra’ dan Mi’raj sekaligus menerima perintah salat 5 waktu 621 Bai’at ‘Aqabah pertama 622 Bai’at ‘Aqabah kedua 622 Hijrah ke Madinah 624 Pertempuran Badar 624 Pengusiran Bani Qaynuqa 625 Pertempuran Uhud 625 Pengusiran Bani Nadir 625 Pertempuran Zaturriqa` 626 Penyerangan ke Dumat al-Jandal: Suriah 627 Pertempuran Khandak 627 Penghancuran Bani Quraizhah 628 Perjanjian Hudaibiyyah 628 Melakukan umrah ke Ka’bah 628 Pertempuran Khaybar 629 Melakukan ibadah haji 629 Pertempuran Mu’tah 630 Pembukaan Kota Makkah 630 Pertempuran Hunain 630 Pertempuran Autas 630 Pendudukan Thaif 631 Menguasai sebagian besar Jazirah Arab 632 Pertempuran Tabuk 632 Haji Wada’ 632 Meninggal (8 Juni): Madinah

Kamis, 25 Oktober 2012

Antara Hari Raya Kurban dan Khitan

"الله اكبر- الله اكبر- الله اكبر لااله الاالله والله اكبرالله اكبر ولله الحمد" Allaahu akbar.. Allaahu akbar.. Allaahu akbar..... Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar walillaahil - hamd.
Ketika suara takbir di malam Idul Adha nanti bergema , menyelinap di setiap relung hati manusia, terkadang saat itu terlintas dibenak kita akan peristiwa ‘penyembelihan Nabi Ismail ‘as. oleh ayahandanya sendiri yaitu Nabiulloh Ibrahim as. Atas perintah Alloh swt.

Yang menjadi pertanyaan sampai saat ini adalah; “ Benarkah perintah Alloh seperti itu ?” dan “Apa hubungan antara kurban dgn perintah khitan?

Semoga tulisan berikut ini bisa memberikan sedikit jawaban.

Agar tidak membingungkan, maka hal pertama yg kita kaji adalah masalah khitan.

Sempitnya pandangan kita terhadap ilmu-2 Alloh yg terjadi di jaman ini, semakin menambah keprihatinan kita sebagai manusia yg notabene mengaku umat Rosululloh Muhammad SAW. Padahal kita semua tahu dan mengerti bahwa di dlm diri Baginda Rosul terdapat suri tauladan yg baik. Tentunya bukan hanya perihal akhlaq dan budi pekerti beliau saja yg patut utk kita tiru, tetapi juga usaha-2 beliau di dlm mengkaji ilmu-2 Alloh yg ternyata di dalamnya terkandung rahasia-2 kehidupan yg belum sepenuhnya di ketahui oleh sebagian manusia di muka bumi ini. salah satu contoh adalah perintah Alloh yg wajib di laksanakan oleh semua umat muslim yaitu berupa khitan. Jujur saja, selama ini kita beranggapan bahwa fungsi utama perintah khitan hanyalah berkaitan dgn masalah kesehatan dan kewajiban setiap muslim saja. Padahal di balik perintah khitan tsb terdapat satu rahasia besar serta manfaat dari khitan itu sendiri. Bahkan sampai saat inipun, belum pernah ulama mengupas tuntas tentang rahasia di balik perintah khitan tsb.

Khitan

Seperti kita ketahui, sejarah khitan ini berawal dari zaman nabiulloh Ibrahim as. Beliau ini adalah pribadi yg sangatlah tekun dan istiqomah di dlm menjalankan ibadah kpd Alloh swt. Jiwa kedermawanannya pun belum bisa ditandingi oleh siapapun di zaman beliau.

Dalam satu riwayat dikisahkan nabi Ibrahim as. pernah berkurban seribu ekor unta. Atas kesungguhan beliau dlm ibadahnya kpd Alloh tsb, nabi Ibrahim as mendapatkan gelar Kholilulloh. Namun satu ketika Alloh swt menyampaikan kpd nabi Ibrahim as, bahwa semua ibadah-2 yg beliau lakukan tsb belum bisa sampai / di terima oleh Alloh swt. Alangkah sedihnya hati beliau mendengar firman Alloh saat itu. Dalam hati beliau dipenuhi tanda tanya, dosa apakah yg telah dilakukannya hingga Alloh swt tidak berkenan menerima ibadah beliau seumur hidupnya.

Sampai satu hari ,datanglah malaikat Jibril as menyampaikan wahyu dari Alloh swt. Isi dari wahyu tsb adalah, Alloh akan menerima ibadah-2 yg telah ataupun akan beliau lakukan, jika nabi Ibrahim as melakukan khitan. Karena hakikatnya di hadapan Alloh swt, manusia yg telah akhil baliq tapi belum berkhitan, berarti dia masih kotor di mata Alloh swt. Ketika itu usia nabi Ibrahim as sudah mencapai empat puluh tahun, dan dgn ikhlas beliau melaksanakan perintah khitan tsb demi tercapainya kesempurnaan ibadah-2 beliau lakukan. Jadi jelaslah bahwa perintah khitan yg diwajibkan Alloh swt disini merupakan landasan yg paling dasar bagi umat manusia sebelum melakukan ibadah-2 lainnya.

Lantas bagaimana halnya dgn anak kecil sudah melaksanakan sholat dan puasa serta ibadah yg lain? Alloh swt akan menangguhkan pahala dari setiap ibadah mereka, hingga saatnya mereka melakukan khitan nanti.

Kurban

Dalam satu riwayat disaat usia nabi Ibrahim as sudah mencapai delapan puluh tahun, beliau masih belum juga di karuniai seorang anak oleh Alloh swt. Namun dgn penuh tawakal dan kesabaran, beliau bersama sang istri yaitu Siti Hajar senantiasa berdo’a agar di karuniakan seorang anak sebagai penerus perjuangan beliau dalam menegakkan agama Alloh swt. Hingga tibalah saatnya do’a beliaupun terjawab. Alloh mengaruniakan seorang anak laki-2 yg cakap parasnya, dan beliau beri nama Ismail. Seiring waktu berlalu, Ismail tumbuh menjadi anak yg tampan, cerdas, sopan dan sholeh akhlaqnya.

Nabi Ibrahim as dan Siti Hajar sangatlah bahagia di kala itu. Hingga tiba saat di mana Alloh swt memberikan ujian bagi beliau. Dalam tiga hari berturut-2 nabi Ibrahim as bermimpi mendapatkan perintah Alloh utk menyembelih putranya yg teramat dikasihi yaitu Ismail. Untuk pertamakalinya nabi Ibrahim as masih merasa ragu akan perintah Alloh tsb. Karena mimpi itu datang tiga kali berturut-2 dgn perintah yg sama, maka yakinlah bahwa hakikatnya mimpi yg beliau alami itu adalah benar-2 perintah dari Alloh swt.Inilah yg perlu kita kaji dgn melibatkan nalar serta mata batin kita di dlm memahami ilmu-ilmu Alloh yg tersurat maupun yg tersirat. Bahwasannya perintah Alloh tsb sangat erat kaitannya dgn perintah khitan tadi. Alloh swt memang memerintahkan nabi Ibrahim as utk ‘menyembelih/memotong’ Ismail putra beliau sendiri, tetapi bukan di potong lehernya.! Melainkan hanya ujung kulit kemaluannya saja, yg kita sebut dgn istilah khitan..!

Dengan tujuan supaya Ismail menjadi golongan hamba Alloh yg suci di hadapan-Nya, seperti yg kita bahas di depan tadi. Dan juga di karenakan Ismail adalah cikal bakal sosok yg akan menurunkan keturunan-2 nabi besar buat umat Islam seperti Nabi kita yaitu Baginda Rosululloh Muhammad SAW. Ini adalah salah satu dari sekian banyak kesalahan yg fatal dlm pemahaman dan juga penyampaian risalah -2 Islam, sejak dulu sampai sekarang.

Lantas bagaimana halnya dgn Ismail yg berubah menjadi seekor domba saat itu?

Alloh swt bukanlah tukang sulap seperti David Copperfield, Chris Angel, ataupun Deddy Corbuzier. Bahkan Alloh sendiri sangat mengharamkan yg namanya sihir maupun sulap. Walaupun dgn segala kekuasaan-Nya Alloh swt sangat mampu merubah Ismail menjadi seekor domba ketika itu, tapi bukan seperti itu kejadiannya. Melainkan setelah nabi Ibrahim menunaikan proses pengkhitanan thd putranya Ismail, Alloh memerintahkan nabi Ibrahim as utk berkurban seekor domba ,yg nanti dagingnya dibagi-2 kan kepada kaum fakir miskin. Ini sebuah perwujudan rasa syukur beliau sekeluarga kpd Alloh swt. Dan disinilah awal mula sejarah terjadinya peringatan hari raya kurban atau hari raya Idul Adha. Dan kebiasaan orang di jaman dulu, mereka selalu melaksanakan hajat khitanan anaknya pada bulan Dzulhijjah atau bulan besar untuk mengenang peristiwa tsb, walaupun sekarang sudah tidak seperti itu lagi.

Mengapa kisah ttg penyembelihan nabi Ismail as yg jelas-2 salah kaprah itu dari dulu masih saja sering diceritakan para da’i ataupun ustadz sampai saat ini ? Jujur saja, saya sendiri terkadang tidak mengerti akan hal tsb. Bisa jadi kyai-nya yg salah menyampaikan, atau bisa juga para santrinya yg salah memahami cerita tsb. Atau juga karena ulama jaman dulu hanya berpatokan pada kitabnya masing-2 dalam memberikan tauziyah, tanpa didasari dgn hakikat ilmu-2 Alloh swt.

wallohua’lam bissowab.

Semoga sedikit tulisan saya ini bisa kita ambil manfaatnya, selalu kita jaga ukhuwah Islamiyah dan kita tempatkan pada porsinya. Bila ada kebenarannya , itu datang dari Alloh swt. Dan bila ada kesalahan disini, saya hanyalah hamba Alloh yg dhoif. Mohon maghfiroh yg sebesa-besarnya.

Wassalam u’allaikum Wr.Wb.


Dikaji oleh:C@k G3mbik (Wong Njadab)

Senin, 14 November 2011

Ketinggian derajat kaum dhuafa di hadapan Alloh SWT dan Rosul-Nya.

STRATEGI ALLAH MENCIPTAKAN WADAH KEMISKINAN

Ketahuilah bahwa strategi ini sangat-sangat ampuh bagi Allah swt untuk menguji hamba-hambaNya yang ingin mencari kedudukan tinggi disisi-Nya. Karena melalui wadah kemiskinan inilah tidak sembarangan orang mampu merasakannya bahkan menjadi sebuah bentuk ujian terberat bagi umat manusia. Dengan strategi inilah siapa pun yang mampu bertahan didalamnya maka dialah yang akan dianggap sebagai HAMBA PILIHAN yang telah mengalahkan ribuan orang-orang yang ingin dinobatkan sebagai KEKASIH ALLAH SWT yang pantas bersanding dialam langit.



Kalau pencarian hamba-hamba pilihan itu melalui wadah yang bukan berbentuk kemiskinan walaupun tetap dengan menggunakan sarana-sarana ibadah serta ditunjang dengan kriteria kepribadian yang selalu iklas, sabar, tawwadu’, tawwakal dsb, mungkin banyak yang lolos dengan mudah meraih predikat tersebut. Tapi kalau sudah dihadapkan dengan keterpurukkan hidup didalam wadah kemiskinan pasti banyak yang lari dan tidak kuat mengambil resikonya dalam meraih predikat sebagai KEKASIH ALLAH SWT tersebut.

Orang-orang yang kuat bertahan didalam wadah kemiskinan materi duniawi ini kebanyakkan mahabbahannya kepada Allah swt tidak terkontaminasi oleh bentuk-bentuk lainnya yang berhubungan dengan kematerian semata. Karena bagi mereka-mereka semua bentuk kedudukan, jabatan, pangkat, kemewahan tentang materi duniawi ini bagaikan bangkai keledai ditengah-tengah pasar yang sudah membusuk dan tak akan laku dijual walau hanya 1 dirham saja.!!! (seperti yang disabdakan Rosululloh saw).

Padahal kalau semua manusia itu menyadari bahwasannya kemahabbahan kepada Allah swt itu rasanya lebih nikmat, lebih damai, lebih khusyu’ dari pada kemahabahan duniawiah yang sarat dengan gesekkan-gesekkan kepentingan, saling berebut, sikat sana sikat sini, adu gengsi, adu ambisi, saling menindas, rakus, serakah dsb. Bukti nyata tentang semua itu sudah banyak kita temui dikomunitas masyarakat ditengah-tengah kehidupan ini. Memang pola hidup yang mengejar kekayaan dan kemewahan duniawi itu sangat lebih disukai oleh manusia bahkan apapun itu resikonya. Tapi ingatlah pola hidup yang seperti itu sangat-sangat belum pasti tepat bagi Allah swt. Bahkan hal itu telah banyak disindir keras didalam firman-Nya seperti yang kami uraikan didalam DASAR-DASAR PENGKAJIAN tadi.

Hadirnya wadah kemiskinan ini memang jauh-jauh hari sebelum manusia diturunkan dibumi itu sudah dipersiapkan dengan cermat oleh Allah swt agar manusia ketika mengisi kehidupannya dibumi nanti tidak akan kaget dan sudah siap dengan segala bentuk kemiskinan yang terjadi. Hal itu telah diberitakan sejak awal pada semua penghuni-penghuni surga khususnya Adam as bahwasannya kehidupan yang ada dibumi itu nanti nuansanya sangat bertolak belakang dan tidak sama dengan kehidupan dialam surgawi yang penuh dengan kenikmatan-kenikmatan. Ciri-ciri kehidupan dibumi nanti sarat dengan kerasnya alam, panas yang menyengat, saling berebut, gersang, banyak pertikaian dan permusuhan, banyak penindasan dan keterpurukan hidup dsb. Makanya kalau dibumi nanti masih saja tergoda dan terlena dengan kemanjaan-kemanjaan hidup seperti dialam surga maka pasti akan hancurlah manusia itu dikehidupan bumi tersebut. Oleh sebab itu dengan diperkenalkannya wadah kemiskinan ini manusianya diharapkan sudah siap menerima semua kriteria-kriteria hidup dibumi itu tadi. Dan dari semua gambaran-gambaran hidup seperti yang ada diatas tersebut ternyata memang dapat dinetralisir hanya dengan kemampuan menyikapi adanya sebuah kemiskinan yang terjadi didalam kehidupnya.

Disini ada sebuah contoh mudah yang dapat kita maknai dengan gampang ketika kita ingin merasakan bobot kwalitas ibadah kita dengan Allah swt, yaitu kekhusyu’an ibadah-ibadah yang kita lakukan ketika kita ditempatkan pada posisi hidup yang bergelimpangan harta, makan dengan enak, tidur disofa yang empuk, rumah yang megah bagaikan istana dan segala-galanya dengan dibandingkan kekhusyu’an ibadah yang kita lakukan ketika ditempatkan pada posisi hidup yang penuh dengan penderitaan, kesusahan dan keterpurukkan dibawah garis kemiskinan. Nah…mana yang lebih berbobot kwalitas ibadah tersebut bagi Allah swt.?

Sungguh…..kalau melakukan ibadah khusyu’ dihadapan Allah swt ketika diposisikan hidup yang serba enak bahkan sampai mampu berhaji sepuluh kali itu lebih banyak yang mampu melaksanakannya bahkan jumlahnya bejibun didunia ini. Tapi coba lihat disekeliling kita, sungguh sangat tidak banyak orang yang ibadah dengan khusyu’ dihadapan Allah swt ketika diposisikan hidup yang melarat. Bahkan hanya segelintir orang saja yang mampu bertahan. Nah… perbandingan itulah yang menunjukkan bobot kwalitas ibadah tersebut disisi Allah swt. Kalau masih ada yang kuat melakukan kekhusyu’an ibadah didalam sebuah kemelaratannya, itu bagi Allah swt sangat luar biasa. Tapi kalau kekhusyu’an ibadahnya itu berada didalam kehidupan yang mapan-mapan saja bagi Allah swt tidak ada kesan yang luar biasa malah tampak wajar-wajar saja karena banyak yang kuat melaksanakannya.

Makanya orang-orang pilihan Allah swt yang diangkat menjadi kekasih-kekasihNya tersebut hakikatnya diambil dari kwalitas ibadah yang luar biasa tadi. Sehingga sangat-sangat tidak banyak yang dapat meraih gelar itu. Jadi bisa disimpulkan dengan gampang bahwasannya orang-orang pilihan Allah swt sebagai kekasihNya itulah berawal dari sebuah penyikapan yang tepat pada kehidupan yang berselimutkan nuansa kemiskinan atau kemelaratan. Sedangkan hidup yang berselimutkan kekayaan dan kemewahan, barangkali harapannya sangat-sangat kecil bahkan tidak mungkin untuk meraih predikat sebagai orang-orang pilihan yang diinginkan Allah swt, karena nilai ibadah-ibadahnya tadi yang hanya berkesan biasa-biasa saja dan wajar-wajar saja dihadapan Allah swt.

Inilah barangkali alasan kuat Allah swt menciptakan wadah kemiskinan yang ditawarkan pada manusia. Strategi ini memang belum banyak yang mengerti dan tahu dibalik hikmah yang dirasakannya nanti ketika disisi Allah swt kelak. Kodrat manusia memang hakikatnya mau gampangnya saja, mau enaknya saja, mau praktisnya saja tapi juga ingin mau meraup segala-galanya didalam hidup ini. Sehingga apabila dihadapkan dengan kondisi hidup yang sangat bertolak belakang langsung disikapi dengan kebencian dan dihinakannya.



Orang-orang yang digolongkan didalam wadah kemiskinan ini antara lain adalah pengemis, gelandangan, pengamen jalanan, pedagang kaki lima, tukang becak, buruh bangunan dan golongan-golongan dhuafa lainnya. Begitu pula golongan yatim piatu, orang-orang jompo, janda-janda tua yang hidupnya sangat terpuruk dan kekurangan. Nah….dari golongan-golongan inilah yang akan dipilih oleh Allah swt mana diantara mereka yang kuat bertahan dan tetap khusyu’ untuk diambil dan dijadikan orang-orang pilihan sebagai kekasih-Nya dimuka bumi ini.

Makanya dengan identitas dan jati diri orang-orang yang tersebut diatas itu kita jangan sampai memandang sebelah mata, menghinakan, menelantarkan apalagi menindasnya. Karena diantara golongan itulah yang mungkin kita tidak tahu ada salah satu kekasih Allah swt yang dimaksudkan tadi. Dimana yang sering digampangkan sebutannya oleh masyarakat umum sebagai WALI-WALI ALLAH SWT. Jadi bisa disimpulkan lebih spesifik lagi bahwasannya Wali-wali Allah swt itu pun ciptaanya diambilkan dari sebuah kemiskinan. Bahkan garis besar Rosul-Rosul Allah swt pun sebelum Rosululloh Muhammad saw semuanya tidak jauh dari wadah kemiskinan. Dan itu lebih dipertegas lagi terbukti dengan jelas pada diri Baginda Rosul saw beserta sahabatnya seperti yang kami uraikan didepan tadi.

Oleh sebab itu dengan adanya ungkapan yang mengatakan kalau “ulama adalah pewaris atau penerusnya Nabi”. Itu sebenarnya tidak jauh dengan kriteria ulama yang diambil dari orang-orang pilihan (wali-wali Allah swt) yang tentunya juga berada didalam golongan wadah kemiskinan. Sedangkan ulama-ulama yang hidupnya diselimuti gelimpangan harta kemewahan duniawi sungguh sangat meragukan untuk dinobatkan sebagai pewarisnya Nabi. Seperti yang banyak kita lihat pada jati diri ulama-ulama modern dijaman sekarang ini yang gaya hidupnya penuh dengan kemewahan-kemewahan.

Nah….sekarang kita kembali lagi mengkaji tentang sosok jati diri fakir miskin tadi, kita mungkin tahu bahwa banyak manusia yang kuat belajar menyikapi gaya hidup para alim ulama baik itu ilmunya atau kepribadiannya. Tapi ketahuilah bahwa tidak banyak yang kuat manusia itu belajar pada gemblengan-gemblengan hidup yang seperti dialami oleh sosok gelandangan. Banyak manusia-manusia itu ingin bersanding dan berfoto mesra dengan ulama-ulama kharismatik tapi tidak banyak manusia yang mendokumentasikan berfoto mesra bersama sosok gelandangan. Padahal dengan belajar banyak pada gelandangan inilah kita akan tahu kwalitas kesabaran, keiklasan, ketawwakalan dan qona’ah kepada Allah swt didalam hidup ini dari pada kesabaran, keiklasan dan ketawwakalan para ulama-ulama tadi. Mungkin andai saja ditantang sosok ulama itu disuruh hidup bergelandang dengan sosok gelandangan disuruh hidup sebagai ulama, maka pasti ulama tersebut tidak akan kuat dan menyerah kalah kalau harus hidup menggelandang sedangkan gelandangan pasti akan merasa senang dan puas kalau hidupnya harus seperti ulama.

Kita ambil contoh kecil saja, beranikah ulama-ulama itu ditantang makan-makanan busuk yang ada disampah dan tidur berselimutkan dinginnya angin malam dipinggir jalan.? Mungkin satu atau dua hari saja kuat tapi untuk selama hidup yang bertahun-tahun barangkali menyerah total pada gelandangan bahkan keikhlasan, ketawwakalannya dan kesabarannya akan hilang pada jati dirinya kalau kehidupannya diposisikan seperti gelandangan. Oleh sebab itu dengan perbandingan seperti diatas tersebut kita tahu betapa dahsyatnya yang ada dibalik kehidupan para gelandangan sehingga ukuran kekuatan hidup ulama pun mampu dikalahkannya. Makanya dengan katagori tersebut kita bisa mengibaratkan bahwa harga sebuah senyuman sesaat dari para gelandangan itu lebih mahal dari pada harga segunung keikhlasan, kesabaran dan ketawwakalannya para ulama didunia ini !

Karena kalau para gelandangan itu sampai bisa tersenyum didalam hidupnya maka itulah wujud sebuah keikhlasan, ketawwakalan dan kesabaran hidup yang sangat-sangat tinggi dibandingkan dengan lainnya.

Ingatlah islam itu bukan tampilan diluar yang dinilai oleh Allah swt tapi islam itu yang dinilai adalah tampilan didalam jiwa yang berbentuk ahlak yang mulia dihadapan Allah swt seperti ahlak yang berbentuk sabar, ikhlas, jujur, qona’ah, tawwakal, tawwadu’ dsb. Jadi.. dibungkus dgn apapun jati diri manusia itu walaupun seperti gelandangan tapi kalau didalam jiwanya terpancar akhlak yang mulia pasti akan bernilai mahal bagai mutiara disisi Allah swt dari pada seperti ulama yang ke mana-mana berjubah putih panjang tapi akhlaknya masih belum maksimal dihadapan Allah swt.

Nah…kenapa golongan fakir miskin itu harus kita perhatikan dengan cermat bahkan kalau mampu berilah makanan atau sedekah setiap hari.? Malah jangan sampai teraniaya wadah kemiskinan ini dikehidupan seperti yang sering kita temui setiap harinya. Disini alasan kuatnya ada empat pilar utama yang menjadikan fakir miskin ini harus kita junjung tinggi martabatnya, yaitu antara lain :

1. AGAR KITA TIDAK DIGOLONGKAN SEBAGAI PENDUSTA AGAMA.

Sesungguhnya percuma saja kita sholat khusyu’ satu hari satu malam, puasa sebulan penuh, naik haji berkali-kali kalau didalam kehidupan sehari-hari kita ini tidak pernah menyantuni anak yatim piatu dan sekedar hanya memberikan makan pada fakir miskin. Dan hal tersebut telah ditegaskan dengan jelas didalam Al Qur’an surat Al Maa’uun ayat 2 dan 3. Coba teliti dengan cermat ayat tersebut, disitu kita dianjurkan oleh Allah swt agar kepada para fakir miskin untuk bisa sekedar memberikan makan saja tapi bukan menghilangkan kemiskinannya dari kefakir miskinan tersebut, apabila tidak diperhatikan nasib para fakir miskin tersebut maka sekhusyu’ apapun ibadah kita dihadapkan Allah swt akan ditetapkan sebagai PENDUSTA AGAMA.!!!

Jadi alangkah kikirnya kalau ada orang-orang yang tidak mau hanya sekedar memberi makan pada fakir miskin, dimana yang kosekwensinya nanti akan dicap sebagai pendusta agama. Begitu murahnya harga agama yang diyakininya tersebut kalah dengan kekikirannya yang hanya dituntut sedikit untuk bersedekah sebungkus nasi pada fakir miskin. Dan kondisi yang seperti ini memang menjadi kebiasaan yang lumrah adanya kalau orang-orang yang senang menumpuk-numpuk hartanya terrsebut tidak mau perduli dengan apa yang dimakan oleh para gelandangan dipinggir-pinggir jalan. Sungguh ironis sekali agama dan ibadah orang-orang tersebut yang hanya ditentukan dengan ritual-ritual syariat saja sedangkan keperdulian yang tinggi kepada orang-orang dhuafa disekitarnya sudahnya tidak ada lagi didalam getaran sanubarinya. Malah banyak dari golongan yang ahli agama seperti ustad dan da’i-da’i modern yang juga terlena dengan kehidupan yang serba selebritis, publikasi, serta banyaknya majelis-majelis dzikir yang hanya dipenuhi oleh orang-orang kaya saja sedangkan didalam majelis tersebut tidak satu pun ditemukan sosok gelandangan fakir miskin yang harus dimuliakannya.

Malah yang tidak bisa kami bayangkan adalah banyaknya para ulama dan ustad-ustad modern saat ini ikut-ikutan berpangku tangan ria menyambut program pemerintahan yang ingin memerangi, menghapus dan memberantas kemiskinan dikehidupan ini. Sehingga rasa kemanusiaan dan rasa iba pada para gelandangan sudah tidak dipertimbangkan lagi. Mereka-mereka para gelandangan ini ditarik paksa, diseret, dipukuli bahkan dilemparkan didalam mobil-mobil trantib ketika para petugas-petugas negara ini mengadakan operasinya dijalan raya.

Coba sekarang kita lihat sejarah kebelakang tentang riwayatnya Kholifat Umar ra yang pada waktu itu menjadi presiden Negara. Pada suatu hari Beliau ra berjalan-jalan disuatu desa yang terpencil tempatnya. Disitu beliau ra sempat terhenti langkahnya karena mendengar tangisan anak-anak kecil didalam sebuah gubuk reot yang sangat memilukan. Selangkah demi selangkah gubuk tersebut didekatinya dan didengarlah suara anak-anak itu meminta makan pada ibunya karena rasa laparnya yang tidak tertahan lagi. Tapi oleh sang ibu dikatakanlah kalau apa yang dimasak itu sebentar lagi akan matang. Nah…karena saking lamanya menangis sampai anak-anaknya tersebut tertidur pulas. Kemudian dengan penuh rasa haru bertamulah kholifah Umar ra ini masuk kedalam gubuk sambil menanyakan “Wahai ibu…dimanakah suamimu sekarang ini.??? Dan apa yang kau masak itu sehingga sampai anak-anakmu lama menunggu untuk matangnya masakan tersebut.???” Kemudian dijawablah oleh ibu tadi “Ketahuilah wahai orang asing, suamiku sudah lama tidak ada karena dia telah gugur didalam pertempuran membela agama Islam. Sedangkan yang membuat masakan ini tidak matang-matang, karena yang aku masak adalah BATU yang tujuannya untuk membujuk tangisan anak-anakku yang sedang kelaparan. Wahai orang asing kalau anda suatu saat nanti dapat berjumpa dengan kholifah Umar ra maka ceritakanlah kejadian ini padanya dan sungguh kholifah Umar ra memang tidak tahu diri akan nasib rakyatnya setelah dia menjadi penguasa.!!!”

Mendengar ungkapan ibu yang polos tadi kholifah Umar ra hanya terdiam dan tertunduk malu dengan mengatakan pelan “Ya ibu, nanti aku akan sampaikan pada kholifah Umar ra. Sungguh memang benar-benar tidak tahu diri kholifah Umar itu.!!!” Disitu rupanya ibu itu tidak tahu kalau yang dihadapinya adalah kholifah Umar ra sendiri.

Akhirnya singkat cerita diambilkanlah beras satu karung oleh kholifah Umar ra dan dipikul sendiri dari Baitul Maal, ke desa tadi yang jaraknya sangat jauh untuk diberikan kepada ibu tadi. Seketika kagetlah sang ibu itu bahwa yang ditemuinya tadi adalah benar-benar Kholifah Umar ra. Bahkan para bawahannya sempat dimarahi oleh Kholifah Umar ra ketika ingin menggantikan beras yang dipikul oleh kholifahnya sendiri. Nah…yang menjadi pertanyaan besar adalah mengapa kholifah umar ra ini tidak merubah nasib ibu tadi dari kemiskinan menjadi hidup kaya raya.? Padahal pada waktu itu kholifah Umar ra mampu untuk merubah itu semua. Justru yang dilakukan hanya sebatas memberi makan saja pada keluarga yang miskin tersebut. Nah…itulah sebenarnya makna hakikat dari surat Al Maa’uun yang disebutkan tadi yaitu kewajiban kita hanya cukup memberikan makan saja pada golongan fakir miskin tapi bukan merubah dan memberantas kemiskinannya. Karena yang namanya KEMISKINAN itu adalah mutlak milik Allah swt semata, sedangkan manusia tidak berhak untuk melenyapkannya. Itulah yang dilakukan oleh kholifah Umar ra, sehingga dirinya lepas dari predikat PENDUSTA AGAMA. Mungkin barangkali pada saat itu kholifah Umar ra tidak segera mengambil sekarung beras pasti pada saat itu pula khilifah Umar ra di cap sebagai PENDUSTA AGAMA walaupun jasa-jasa beliau ra didalam tegaknya dinnul islam sangat-sangat besar.

Jadi sekali lagi yang perlu kami tegaskan bahwasannya Allah swt tidak menganjurkan untuk memberantas dan memerangi makna KEMISKINANNYA pada kaum-kaum dhuafa tapi yang diperintahkan oleh Allah swt kepada semua umat manusia adalah tumbuhkan saling peduli, saling menolong, saling berbagi yang hanya sekedar memberikan sedekah makanan saja seperti apa yang selama ini kita makan sehari-hari. Biarlah kemiskinannya itu tetap melekat pada jati diri kaum dhuafa karena wadah kemiskinan itu telah mendapatkan derajat kemuliaan yang tinggi disisi Allah swt dari pada wadah kemewahan duniawi yang selama ini dikejar-kejar dan didewa-dewakan oleh mayoritas umat manusia.

Itulah hikmah besar dibalik kisah kholifah umar ra dengan seorang ibu yang fakir miskin didalam hidupnya sehari-hari dalam memaknai sebuah WADAH KEMISKINAN.

2. KARENA DO’A FAKIR MISKIN MAMPU MEMBUKA PINTU LANGIT.

Didalam ketentuan Allah swt menurunkan BAROKAH-NYA dari langit dengan deras bagaikan air terjun yang tidak henti-hentinya, itu hanya dapat dilakukan oleh empat golongan yang ada dimuka bumi ini, yaitu:

a. Ilmunya para Ulama

b. Sifat adil dari sang penguasa (Umaroh)

c. Kedermawanan orang kaya

d. Doanya fakir miskin.

Nah….empat golongan inilah sebagai kunci yang mampu membuka pintu langit untuk mendapatkan derasnya barokah dari Allah yang tanpa henti-henti yang akhirnya menjadikan suatu daerah itu akan merasa adil dan makmur tanpa adanya adzab atau musibah yang diturunkan Allah swt. Tanpa kunci-kunci tersebut maka pintu-pintu langit yang berjumlah tujuh lapis itu tidak akan terbuka dan tidak akan diturunkan pula barokah dari langit, karena selama pintu langit masih tertutup maka mustahil barokah akan turun ke bumi.

Jadi disinilah hakikatnya Allah swt itu menciptakan langit sampai tujuh lapis yaitu untuk menyeleksi dan mengontrol amal perbuatan baik semua manusia dibumi yang naik keatas menghadap kepada Allah swt agar mendapatkan balasan pahala dan barokah serta juga untuk menahan adzab yang dilepas dan diturunkan ke bumi agar bumi tidak hancur dan meleleh akibat dahsyatnya adzab tersebut. Andaikata tanpa langit-langit tersebut pasti bumi sudah musnah sejak dahulu.

Amal perbuatan baik yang naik keatas itulah harus mampu melewati pintu demi pintu dari langit yang satu ke langit yang lainnya. Dan disetiap pintu-pintu langit amal perbuatan baik itu selalu dikontrol dengan ketat oleh Allah swt, apakah perbuatan baik itu didasari keiklasan yang tinggi ataukah karena kepentingan-kepentingan tertentu. Makanya tidak semua amal perbuatan baik itu bisa diterima Allah swt secara langsung. Dan hanya amal baik orang-orang yang keiklasannya tinggi-lah yang bisa membuka dan melewati semua pintu-pintu langit. Sedangkan amal baik yang didasari dengan kepentingan-kepentingan seperti pamer, pamrih itu semua hanya menggantung antara langit dan bumi, yang hakikatnya tidak mampu melewati pintu-pintu langit dan tidak lolos dari kontrol Allah swt untuk mendapatkan sebuah pahala dan barokah yang abadi.

Oleh sebab itu kalau ingin lolos dari kontrol Allah swt dari langit ke langit tersebut maka carilah di salah satu empat golongan diatas yang berperan sebagai kunci yang mampu membuka semua pintu-pintu langit. Kemudian dekatilah dan manfaatkan salah satu kunci dari empat golongan tersebut agar kita mendapatkan kucuran barokah yang deras tanpa henti bagaikan kita meletakkan satu wadah dibawah air terjun yang selalu penuh dan penuh bahkan sampai tumpah keluar barokah tersebut mengenai sekeliling kita.

Jadi tujuh lapisan langit yang diciptakan oleh Allah swt itu ibarat pipa penyaring yang mempunyai dua jalur, yaitu jalur naik ke atas yang digunakan untuk mengangkat amal perbuatan baik dan jalur turun ke bawah yang digunakan untuk melepaskan adzab atau barokah. Disitu kalau amal baik itu banyak yang terangkat ke atas dan sampai berada disisi Allah swt maka barokalah yang akan mengucur deras turun ke bumi tapi kalau tidak satu pun amal baik itu terangkat keatas bahkan Allah swt merasakan sepinya amal baik yang ditemuinya maka adzablah yang akan deras turun ke bumi. Karena secara spontanitas kalau di alam langit tersebut jarang sekali ditemui amal baik yang terangkat ke atas maka itu berarti menggambarkan umat manusia tidak ada yang pernah berbuat kebaikan lagi dimuka bumi ini alias ahlaknya rusak total.!!!

Nah….disetiap lapisan langit itu seluruh Rosul-Rosul Allah swt ditempatkan disitu semua bahkan Baginda Rosul saw pun selalu berkeliling mengontrol dengan serius disetiap dua jalur yang ada dipintu-pintu langit tersebut. Dimana tujuan Beliau saw adalah karena ingin tahu sampai seberapa banyaknya amal-amal baik yang terangkat ke atas sehingga dijalur yang satunya Rosululloh saw akan segera berusaha membuka lebar-lebar pintunya agar barokah yang segera turun dapat mengalir dengan deras. Disitu juga Rosululloh saw akan mempersempit saringan pintu langit kalau yang diturunkan oleh Allah swt itu adalah adzab, agar umat-umat kesayangannya tidak terlalu pedih merasakan adzab tersebut dan juga dengan memperlambat adzab yang diturunkan itu Rosululloh saw pun masih ada waktu untuk memberitahukan kepada umat kesayangannya yang ada di bumi yang masih khusyu’ memegang sunahnya dan syariat Islam. Tujuannya agar orang-orang soleh yang diberitahu nanti dapat bersiap diri dan mengantisipasi hadirnya adzab yang segera diturunkan ke bumi.

Disitulah letak kemurahan dan welas asih Rosululloh saw pada umat kesayangannya. Makanya kadang-kadang orang yang kekhusyu’an dan keiklasannya tinggi itu banyak tahu lebih dulu ketika adzab itu bakal diturunkan sehingga dengan antisipasi yang sempurna maka selamatlah orang-orang soleh itu dari adzab yang pedih.

Dengan sibuknya Rosululloh saw mengawasi dan mengendalikan diantara dua jalur pintu langit itu para Rosul-Rosul yang lainnya yang ada disetiap lapisan langit tadi tidak bisa berbuat banyak untuk membantu Baginda Rosul saw. Para rosul-rosul itu hanya mampu mengamati dengan penuh rasa haru, menangisi dengan penuh tawwadu’ serta berdoa dan bersholawat dengan lantunan suara yang indah pada Beliau saw.

Diantara langit-langit yang ditempati itulah semua Rosul-rosul Allah swt mengetahui hilir mudiknya dan keluar masuknya adzab atau barokah ketika diturunkan ke bumi. Sehingga rusak atau tidaknya ahlak manusia, hancur atau tidaknya bumi untuk dikiamatkan nanti semuanya disaksikan dengan jelas oleh rosul-rosul Allah swt yang ada disetiap lapisan langit. Oleh sebab itu kunci-kunci yang mampu membuka pintu langit itulah yang menentukan rusak tidaknya atau kiamat tidaknya kehidupan di bumi ini.

Nah…setelah kita tahu betapa pentingnya peran kunci-kunci pembuka pintu langit tersebut maka langkah selanjutnya adalah manakah kunci yang lebih mudah ditemukan dan digunakan diantara empat golongan tersebut.??? Apakah ada di Ulamanya, Umarohnya, orang-orang kaya dermawan ataukah pada doa fakir miskin.??? Untuk itu mari kita telusuri satu persatu masing-masing kunci tersebut.

Ø Kunci yang ada pada ilmu para ulama

Disini menurut pandangan kami nampaknya sangat-sangat sulit untuk menemukan ilmunya ulama yang benar-benar tulus dan putih untuk dijadikan kunci pembuka pintu langit, apalagi ulama yang ada di akhir jaman ini. Semuanya hampir diukur dengan nilai-nilai nominal semata sehingga nuansa ilmu yang tersebar dikomunitas masyarakatnya sudah sangat jauh dari sentuhan kesucian dan kesakralan ilmu tersebut. Bahkan sepak terjang ulama-ulama dijaman ini banyak yang suka mengejar-ngejar kekuasaan,ikut berpolitik kotor, bergaya selebritis, suka publikasi, pamer dan pamrih, yang semuanya itu sangat menyimpang jauh dari harapan Rosululloh saw yang konskuensinya seharusnya tidak pantas untuk dinobatkan sebagai pewaris Nabi sejati.

Sehingga kalau ilmunya ulama semacam ini apabila digunakan untuk membuka pintu langit bahkan sampai kelapisan tujuh sungguh sangat sulit sekali, karena kesucian ilmunya sudah banyak yang terkontaminasi dengan hal-hal yang berbau kepentingan-kepentingan kematerian semata. Dan itu pasti akan ditolak balik oleh Allah swt ketika masih berada dipintu langit yang pertama. Makanya ilmunya ulama-ulama yang seperti itu jarang membekas didada setiap umat muslim ketika disampaikan melalui syiarnya. Apalagi sampai mampu merubah aklak manusia menjadi lebih mulia dan istiqomah didalam hidupnya. Malah yang sering terjadi adalah setelah memberikan materi ilmu didalam ceramah agamanya hampir tidak membekas pada pendengar-pendengarnya sehingga aklak-aklak kepribadian yang buruk akan tetap seperti semula, sedangkan dai-nya sendiri pun setelah menerima amplop maka selesai sudah urusannya. Entah ceramahnya tadi itu disikapi atau tidak didalam kepribadian setiap muslim yang mendengarkannya, baginya tidak ada pertimbangan dan tidak ada kontrol balik sama sekali hasil ceramah tersebut. Yang penting ceramah itu sudah disampaikan ya sudah, meskipun banyak banyolannya dari pada materi ilmu ngajinya disetiap ceramahnya.

Inilah salah satu sebagian besar contoh gaya ulama-ulama modern dalam mensyiarkan ilmu-ilmu Allah swt ditengah-tengah masyarakatnya. Sedangkan ulama-ulama yang mempunyai kharomah kewalian jumlahnya sudah sangat sedikit bahkan banyak yang sembunyi dari keramaian dunia, bahkan banyak yang sudah diambil oleh Allah swt. Ulama yang mempunyai kharomah kewalian inilah yang sebenarnya harus kita temukan karena ilmu-ilmunya-lah yang cocok sebagai kunci pembuka pintu-pintu langit sampai lapisan yang ke tujuh. Namun sekali lagi sudah sangat sulit kita temukan dijaman akhir ini. Makanya harapannya sangat kecil sekali kita menemukan dan menggunakan kunci ini. Untuk itu mari kita coba kunci lainnya yaitu pada kunci yang kedua terletak pada sifat adilnya para umara’

Ø Kunci yang ada pada sifat adil sosok penguasa (umara’).

Disini kita malah lebih memahami bahwasannya dijaman akhir ini hampir 99% tidak ada sifat adil yang dimiliki oleh penguasa. Justru yang banyak terjadi adalah sifatnya yang suka menindas, menghalalkan segala cara, rasa pamer dan pamrihnya tinggi, mendewa-dewa jabatannya dan menghancurkan siapa saja yang menghalanginya. Nah…kalau rasa keadilan itu hanya sebagai wacana dan mimpi semata maka harapan untuk menemukan kunci pembuka pintu langit sudah sangat mustahil kita dapatkan.

Makanya jangan heran kalau ada suatu Negara yang ditimpah musibah atau adzab berkali-kali karena hanya gara-gara satu orang saja yang haus kekuasaan dan menelantarkan kaum dhuafa. Satu orang inilah yang membuat pintu langit itu semakin menutup rapat dan sulilt untuk melepaskan barokah dari langit. Sehingga betapa subur alamnya dan berlimpah ruahnya kekayaan alamnya namun tetap saja sengsara masyarakatnya bagaikan ayam kelaparan dilumbung padi.

Jadi kita bisa menyimpulkan sekali lagi bahwasannya kunci yang kedua ini pun sangat-sangat sulit kita temukan. Oleh sebab itu coba kita cari kunci lainnya yang ketiga ditempat kedermawanannya orang kaya. Karena harapa pada kunci yang pertama dan kedua diatas tadi untuk meraih barokah Allah swt sudah tidak mungkin kita dapatkan dengan mudah. Nah…mungkinkah kunci kedermawanan orang kaya itu mampu membuka pintu langit dengan mudah.??? Mari kita kaji bersama-sama…..

Ø Kunci yang ada pada kedermawanan orang kaya.

Kedermawanan yang dilakukan oleh orang kaya ini ada dua macam jenisnya yaitu kedermawanan yang sifatnya publikasi (pamer / pamrih) serta yang satunya kedermawanan yang sifatnya sembunyi-sembunyi / yang penuh keikhlasan. Tentunya kedermawanan yang sifatnya publikasi itu harapannya sangat tipis dihadapan Allah swt untuk bisa diterima mendapatkan kucuran barokah, karena bagi Allah swt sesuatu kedermawanan yang dipamer-pamerkan sudah pasti akan ditolak mentah-mentah. Bagi Allah swt walaupun tidak dipamerkan pasti semuanya akan diketahui-Nya. Itu adalah bukti bahwa kedermawanan yang dipublikasikan oleh orang-orang kaya sudah dihijab dengan tabir tembok yang sangat kokoh oleh Allah swt. Jadi dengan demikian pasti sia-sialah semuanya yang didermawankan tersebut untuk digunakan membuka pintu langit.

Sedangkan kedermawanan yang sifatnya sembunyi-sembunyi itu pun ada dua bagian yang masih dihijab pula oleh Allah swt dengan tembok yang kokoh yaitu kedermawanan pada hal-hal yang bersifat baik atau kedermawanan pada hal-hal yang buruk yaitu yang ada hubungannya dengan sebuah kemaksiatan. Hijab itulah yang nanti akan membentengi semua bentuk kedermawanan yang bersifat tidak baik dimata Allah swt walau pun sudah disifati dengan sembunyi-sembunyi.

Begitu pula dengan kedermawanan sembunyi-sembunyi yang bersifat baik bagi Allah swt tetap saja terus dihijab dengan tambok yang kokoh yaitu diseleksi dengan ketat tentang rejeki yang diperolehnya, apakah dari sesuatu yang bercampur haram atau halalan toyyibah.? Bagaimana dgn orang-orang kaya dijaman ini yang hampir rejekinya tidak ada yang halalan toyyibah malah mayoritas banyak yang diperoleh dari kecurangan, korupsi, riba atau apapun disikatnya yang penting bisa kaya. Sehingga rejeki yang model seperti ini secara tidak langsung akan ditolak mentah-mentah juga oleh Allah swt ketika sampai dipintu langit yang pertama.

Sedangkan rejeki yang berasal dari halalan toyyibah sangat-sangat kecil sekali jumlahnya dan itupun masih tetap terus dihijab lagi oleh Allah swt yaitu diseleksi dengan ketat tentang kemana saja dibelanjakannya.? Disitu walaupun yang diperoleh itu sudah halalan toyyibah dan yang dibelanjakan itu pun juga sudah benar-benar baik menurut syariat Allah swt, itupun masih saja dihijab dengan pertanyaan sudahkah diambil 2,5 %nya dan dizakati disetiap tahunnya.? Nah dengan banyaknya hijab-hijab yang seperti itu bagi ukuran umat manusia yang sudah mencapai hidup yang kaya dijaman akhir ini semuanya hampir tidak bisa dilewati dengan mulus untuk sampai dihadapan Allah swt. Dengan demikian secara tidak langsung disinilah sulitnya kedermawanan orang-orang kaya itu berperan sebagai kunci yang mampu membuka pintu-pintu langit.

Jadi bisa disimpulkan sekali lagi bahwasannya tiga kunci yang ada diatas tersebut sangat-sangat sulit untuk digunakan membuka pintu-pintu langit, sehingga harapan satu-satunya yang tertinggal adalah menemukan kunci terakhir yang ada pada do’anya fakir miskin. Nah…apakah mampu kita temukan dengan mudah kunci tersebut ataukah malah tambah lebih sulit dari ketiga kunci yang sudah kita bahas diatas tadi.?Untuk itu mari kita kaji kunci yang ada pada doa fakir miskin ini.

Ø Kunci yang ada pada do’a fakir miskin.

Alternatif inilah yang mungkin jalan termudah untuk menemukan kunci yang mampu membuka pintu langit yang selama ini sulit ditemukan pada tiga kunci lainnya seperti yang ada diatas. Kenapa demikian.? Karena doa yang dimiliki oleh fakir miskin ini prosesnya tidak sulit untuk ditemukan tinggal bagaimana caranya saja kita mau mendekati fakir miskin yang ada disekitar kita untuk mendapatkan doa-doanya. Namun sekali lagi, melihat manusia-manusia akhir jaman ini sudah kian surut kepedulian mereka pada kaum fakir miskin ini, akhirnya banyak juga yang tidak mendapatkan doa-doanya. Makanya yang menerima doa itu hanya sebatas orang-orang yang mau peduli dan mengerti tentang kedudukan fakir miskin saja. Mungkin jumlahnya hanya segelintir orang saja yang bisa berbuat seperti itu pada fakir miskin. Coba bayangkan betapa nikmatnya kalau kunci itu kita dapatkan dengan mudah didalam hidup ini, pasti kita tidak akan henti-hentinya mendapatkan derasnya kucuran barokah dari langit bagaikan siraman air terjun yang menyejukkan jasmani dan rohani kita.

Sungguh sayang seribu sayang jalan termudah ini begitu dihinakan dan diremehkan disetiap relung hati umat manusia diakhir jaman ini. Biarlah mereka-mereka yang tergila-gila dengan kesuksesan duniawi semata ini terlena dengan hal-hal yang bersifat sementara, sedangkan makna barrokah yang mendatangkan ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan abadi tidak dijadikan pertimbangan yang semestinya.

Makanya dengan semua kajian-kajian yang ada diatas tersebut, mari.. bersama-sama kita-2 yang masih dielamatkan Alloh , yang hidup ditengah-tengah jaman yang penuh dengan panasnya gesekkan-gesekkan ambisi dan hawa nafsu berusaha mencoba mencari celah kecil untuk menemukan secercah harapan barokah Allah swt yang ada dilangit dengan melalui shodaqoh di setiap harinya, walaupun sekedar memberikan sedekah makanan bagi kaum-kaum dhuafa yang ada dipinggir jalan. Baik itu sedekah berupa beras ataupun sedekah makanan yang walaupun sekedar nasi bungkus

Harapan kami bersama-sama jamaah ini tidak banyak, cuma hanya ingin mendapatkan sepatah kata doa yang keluar dari mulut kering orang-orang gelandangan dipinggir jalan yang kita sedekahi setiap hari tadi, sehingga dengan itulah kami sudah merasa puas lahir batin dunia akhirat. Doa-doa mereka yang sering kami dengarkan walaupun nuansanya sangat-sangat polos, sederhana, iklas dan singkat yang hanya berkata ”semoga selamat…..,semoga dibalas oleh Allah swt….semoga rejekinya bertambah….dsb” itu mampu menggetarkan Arsy-Nya dialam langit.

Dengan doa sesingkat itu bagi kami hakikatnya didalamnya penuh dengan warna-warna keikhlasan dan ketulusan yang tinggi dari lubuk hati para dhuafa ini. Dan kami yakin seyakin-yakinnya bahwa seketika itu pula langsung pintu-pintu langit yang ada diatas kami mulai dari langit pertama sampai langit ke tujuh akan terbuka lebar dan mengucurlah dengan deras barokah dari Allah swt….Amin Allohumma Amin. Apalagi tidak ada alasan doa fakir miskin yang tidak ikhlas karena mereka itu hidupnya sudah tidak punya kekuasaan apa-apa, sudah dihinakan dan sudah tidak bisa berbuat apa-apa, sehingga yang tersisa hanyalah seunta do’a dan kesabaran, segenggam keikhlasan dan ketawwakalan kepada Alloh robbul alamin.

Andaikata wadah fakir miskin ini benar-benar dihalalkan oleh Allah swt untuk diberantas dan dilenyapkan dimuka bumi ini seperti yang sekarang digembar-gemborkan oleh para penguasa, maka pasti tidak ada kekuatan lagi yang bisa membuka pintu langit. Bagaimana dunia ini tidak segera di kiamatkan oleh Alloh? Atau barangkali negara ini tidak henti-hentinya ditimpa adzab dan musibah oleh Allah swt. Diakibatkan oleh kualat besar terhadap kaum dhuafa.

Inilah yang harus kita renungkan dengan cermat didalam hidup ini ketika menyikapi sebuah fenomena aneh yang ada pada jati diri fakir miskin, terutama pada kekuatan doanya. Karomah inilah yang membuat kita tidak boleh menelantarkan apalagi menindas dan menyakiti fakir miskin. Alasan-alasan kuat lainnya terdapat pada penyebab ketiga, yaitu :

KARENA JATI DIRI FAKIR MISKIN ADA 3 DIMENSI.

Tiga dimensi yang dimaksud itu adalah terdiri dari dimensi :

Malaikat Allah swt,

Wali Allah swt

keluarga besar Rosululloh saw.

Dari ke tiga dimensi itulah kemudian dikumpulkan menjadi satu oleh Allah swt dan dibentuk menjadi sebuah ciptaan yang benar-benar disembunyikan kekuatan karomahnya agar hal itu tidak diketahui oleh setan dan sekutu-sekutunya. Bahkan tampilan sosok ini nanti oleh Allah swt seakan-akan selalu dihinakan, diremehkan dan tidak ada harganya sama sekali dimata umat manusia. Sosok inilah yang kita kenal sebagai sosok hamba Allah swt yang keberadannya masih diselimuti dengan kemiskinan yaitu sosok fakir miskin yang hidupnya benar-benar jauh dibawah garis kemiskinan, yang kita kenal dengan sebutan Gelandangan.

Fenomena aneh inilah banyak yang tidak tahu dan pasti heran adanya, namun bagi orang-orang yang mengerti tentang itu akan tidak sulit untuk menemukan siapa itu Malaikat Allah swt, Wali Allah swt dan keluarga besar Rosululloh saw. Sehingga ketika kita melihat seorang gelandangan dengan rasa iba (kasihan) dan bermahabbah padanya maka hakikatnya kita telah melihat sosok Wali Allah swt dengan nyata. Namun kalau kita melihat tanpa ada rasa kasihan dan mahabbah maka tidak akan tampak pula jati diri Wali Allah swt didalam sosok gelandangan tadi. Yang tentunya keberadaan sosok wali Allah swt didalam jati diri gelandangan itu tetap tersembunyi dan disembunyikan dengan rapi oleh Allah swt. Makanya para sesepuh-sesepuh alim ulama dulu sering mengingatkan kita bahwasannya sosok gelandangan itu kadang-kadang bukan orang sembarangan, bahkan bisa jadi itu adalah salah satu Walinya Allah swt yang menyamar sebagai gelandangan. Begitu pula setelah kita melihat dengan rasa iba dan bermahabbah lantas dilanjutkan dengan menghampirinya penuh dengan ketawwadu’an maka sosok gelandangan itu secara hakikat berganti dimensi menjadi Malaikat Allah swt, sehingga dengan demikian disitu kita juga hakikatnya melihat Malaikat Allah swt dengan nyata. Kemudian dilanjutkan terus dengan kita bersedekah secara ikhlas dan tetap bermahabbah padanya maka dimensinya secara hakikat berubah menjadi sosok keluarga besar Rosululloh saw yang selalu dimuliakan oleh Allah swt disepanjang masa. Sehingga pada saat itu pula kita juga melihat dengan nyata salah satu keluarga Rosululloh saw.

Coba bayangkan betapa dahsyatnya dimensi yang ada pada jati diri sosok gelandangan kalau kita dekati dengan rasa iba, mahabbah, tawwadu’ dan bersedekah padanya walau hanya sebungkus nasi saja.

Nah…kira-kira balasan apa yang akan kita dapatkan dari tiga dimensi tadi yang ada pada sosok gelandangan tersebut.? Sungguh dengan sebungkus nasi yang kita sedekahkan tersebut kita akan mendapatkan balasan pancaran nur ilmu Allah melalui dimensi wali Allah. Kemudian akan mendapatkan nur hidayah melalui dimensi malaikat Allah. Dan yang terakhir akan mendapatkan nur Muhammad pada diri kita melalui dimensi keluarga besar Rosululloh SAW yaitu pribadi yang selalu diterangi dengan pancaran budi pekerti Rosululloh saw.

Sungguh beruntunglah orang-orang yang mengerti tentang hakikatnya Allah sampai menciptakan wadah kemiskinan yang ternyata didalamnya terdiri dari sekumpulan para fakir miskin dengan bernuansa 3 dimensi. Dan sungguh merugilah orang-orang yang tidak mengenal tentang itu semua, bahkan justru mereka menghinakannya bagaikan sampah yang tidak ada harganya sama sekali dimata mereka. Mari kita lihat dengan mata batin yang paling tajam , ketika Rosululloh saw memilih jalan hidup yang fakir miskin duniawi. Begitu pula Beliau saw selalu memuliakan tamu-tamunya setiap hari yang sebagian besar dari golongan fakir miskin. Dan malah yang tampak jelas tentang pernyataan Beliau saw dalam sabdanya bahwa “ Besok ketika aku masuk surga pertama kali akan bersama-sama dengan rombongan fakir miskin. “

Jadi begitu mulianya fakir miskin ini dimata Allah swt dan Rosululloh saw. Dan memang tidak heran semua itu bagi yang mengerti tabir rahasianya. Makanya kalau dijadikan sebuah ukuran bahwasannya satu gelandangan yang tercipta itu bobotnya sebanding dengan sepertiga Malaikat, sepertiga Wali Allah swt dan sepertiga dari keluarga besar garis Rosululloh saw. Sehingga 3 kekuatan dimensi inilah yang menjadikan mulia disisi Allah swt dan Rosululloh saw. Tidak ada satu pun yang bisa mengalahkan kesabaran, keiklasan, ketawwakalannya para gelandangan dibumi ini. Karena kesabaran yang ada pada diri gelandangan itu merupakan bentuk kesabarannya Malaikat Allah swt, kesabarannya Wali Allah swt, dan kesabarannya keluarga Rosululloh saw. Begitu pula keiklasan, ketawwakalan dan qona’ahnya.

Inilah salah satu yang menjadi alasan kuat kita harus memperhatikan dan menjunjung tinggi martabat para fakir miskin ini pada derajat kemuliaan ditengah-tengah kehidupan kita. Adapun pilar yang keempat adalah:

KARENA FAKIR MISKIN ADALAH PEMILIK SURGA ALLAH YANG SEJATI

Pernyataan kalau surga itu adalah hak milikinya kaum fakir miskin kemungkinan tidak banyak yang tahu bahkan banyak yang protes tentang hal ini. Sebab semua umat manusia jatuh bangun melaksanakan ibadah didunia ini semata-mata hanya mendambakan masuk surga dengan sukses yang didalamnya penuh dengan kenikmatan-kenikmatan yang luar biasa. Harapan untuk lolos melewati pengadilan akhirat yang ketat, serta untuk mampu menyebrangi jembatan Sirothol Mustaqim secepat kilat merupakan tujuan besar diperjalanan hidup yang sesungguhnya dialam akhirat nanti.

Tapi ketahuilah bahwa semua kenikmatan-kenikmatan disurga itu adalah sebuah kenikmatan yang berbentuk kejutan besar bagi hamba-hamba Allah swt didalam hidupnya yang belum pernah sedikit pun merasakan sebuah kebahagiaan hidup. Seperti yang ditegaskan oleh Baginda Rosul saw dengan sabdanya bahwa “Surga itu adalah kenikmatannya tidak pernah terlintas didalam pikiran, tersentuh oleh tangan, terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga dan terbesit dalam hati bahkan tak pernah hadir dalam mimpi.” Namun disisi lain surga itu juga digambarkan dengan jelas didalam Al Qur’an yang sepertinya sering kita temui dikehidupan ini yaitu misalnya ada sungai yang mengalir dengan jernih, makanan yang enak-enak, tidur di peraduan yang empuk, bersandingkan dengan tujuh puluh bidadari dsb. Dengan demikian mana makna kejutannya.? Disalah satu sisi makna yang digambarkan didalam Al Qur’an sepertinya sudah sering kita temui, yang artinya tidak ada kejutan besar didalamnya. Tapi disisi lainnya Baginda Rosul saw menggambarkan tidak pernah tergambar sama sekali kenikmatan-kenikmatan tersebut sehingga akan menjadi sebuah kejutan besar bagi siapa saja yang merasakannya.

Coba kita renungi sejenak gambaran-gambaran surga seperti yang dijelaskan oleh Baginda Rosul saw dengan yang dijelaskan didalam Al Qur’an. Disitu seakan-akan berbeda dan bertolak belakang penggambarannya. Padahal kedua penjelasan tersebut sangat-sangat berhubungan erat dan tidak ada perbedaannya sama sekali. Oleh sebab itu coba kalau kenikmatan-kenikmatan yang digambarkan seperti itu misalnya tidur peraduan yang empuk, makan makanan yang enak kalau dihadapkan pada golongan orang-orang fakir miskin bukankah hal itu menjadi sebuah kejutan besar yang tidak pernah terlintas dalam pikirannya, terbesit dalam hatinya, bahkan tersentuh dalam angan-2nya? Apabila dibandingkan dengan gambaran kenikmatan-kenikmatan tersebut ketika diberikan pada golongan orang-orang kaya yang setiap harinya sudah kenyang merasakan makan enak, tidur diranjang mewah dan empuk bahkan ditemani oleh wanita-wanita cantik.? Pasti gambaran kenikmatan surga yang digambarkan di atas tadi sama sekali bukan sebuah kejutan yg besar baginya. Malah mungkin saja kalau orang-orang kaya itu nanti dimasukkan surga, dalam hati mereka berkata “ Bukankah surga ini kenikmatannya hanya seperti ini kenikmatan hidup yang aku rasakan didunia? bahkan tidak ada kejutan besar sama sekali didalam surga itu baginya.”

Sedangkan untuk golongan fakir miskin ketika nanti dimasukkan kedalam surga mereka-mereka nanti akan lebih bersyukur dan bersyujud sejadi-jadinya bahkan kejutan besar yang dirasakannya tidak bisa digambarkan dengan ungkapan-ungkapan apapun. Para fakir miskin ini hanya bisa berkata “ Yaa Allah ,sungguh benar apa yang disabdakan oleh Rosul kesayangan-Mu sang Habibillah Muhammad saw bahwasannya kenikmatan-kenikmatan seperti ini benar-benar tidak pernah terbesit dalam hati, terlintas dalam pikiran kami”

Akhirnya dengan ungkapan yang keluar dari mulut kedua golongan inilah Allah swt beranggapan “SurgaKu adalah sangat tepat bagi orang-orang yang selalu bersyukur dengan kenikmatan yang sudah Aku karuniakan didalamnya. Dan memang golongan FAKIR MISKIN-LAH yang pantas memilikinya dari pada golongan orang-orang kaya yang selalu hidup dalam kemewahan.!!!” Bahkan oleh Allah swt didalam surga itu semua atribut yang dipakai dan dimiliki oleh fakir miskin nanti seperti atributnya gelandangan akan diabadikan dan diletakkan didalam satu tempat yang terbuat dari mutiara, permata dan emas . Atribut tsb misalnya seperti sandal bututnya, pakaian kumuhnya, celana sobeknya, tasnya yang kumalnya , bahkan gubuknya yang reot semuanya tesimpan rapi didalam satu tempat yang indah. Semua itu tujuannya agar ketika gelandangan ini merasakan nikmatnya didalam surga akan selalu teringat dengan kehidupan masa lalunya yang penuh dengan penderitaan dan kesengsaraan. Sehingga yang terjadi setiap saat akan selalu bersyukur dan mensyukuri nikmat yang dirasakannya.

Sedangkan bagi orang-orang kaya yang diselimuti dengan kemewahan hidup sangat sulit untuk mendapatkan surga alasannya karena disebabkan adanya beberapa hal yaitu antara lain:

- Gaya hidup dan prilaku orang kaya banyak yang dekat dengan kesombongan sedangkan fakir miskin hampir tidak mempunyai benih-benih kesombongan. Padahal bagi Allah swt siapa pun yang mempunyai benih kesombongan maka akan diharamkan masuk surga-Nya, karena Allah swt sangatlah membenci kesombongan. Ingatlah ketika peristiwa terusirnya setan dan Nabi Adam as bersama Ibu Hawa yang diakibatkan karena adanya sebuah kesombongan dan pembangkangan dihadapan Allah swt

- Orang kaya banyak yang bermahabbah kepada duniawinya daripada Tuhannya sehingga kemahabbahan yang hakiki kepada Allah sudah dinomer-duakan, Bahkan dengan keterlenaannya pada materi duniawi itu seakan-akanmenomorsatukan duniawi dari pada Tuhannya . Namun bagi Allah swt hal-hal itu sudah dianggap menodai sebuah kesucian mahabbah yang sesungguhnya. Sedangkan orang-orang fakir miskin hampir kemahabbahannya pada duniawi tidak terbesit sedikitpun didalam jiwanya.

- Orang kaya jiwanya kebanyakkan penuh dengan ambisi dan gengsi yang besar sehingga rasa peduli dan pengertian pada orang-orang lemah hampir tidak ada. Sehingga yang terjadi didalam prilakunya adalah jiwa yang ingin memuaskan nafsunya semata. Egoisme yg tinggi, ingin menindas dan melenyapkan siapa saja yang menghalanginya sangat mendominasi jiwanya Sedangkan orang fakir miskin hampir tidak terbesit sama sekali jiwa yang ambisius dan gengsi yang besar. Karena gengsi dan ambisi itulah yang menjadikan jauh dari Allah swt.

- Dan masih banyak lagi alasan-alasan Allah swt untuk tidak memasukkan orang-orang kaya kedalam surga-Nya. Bagaimana dengan orang kaya yang mempunyai nilai ibadah dengan semangat didalam hidupnya.? Tentunya hal itu juga dipertimbangkan oleh Allah swt, tapi yang menjadi pertanyaan adalah benarkah rejeki yang didapatnya sudah halalan toyyibah? beranikah kemahabbahannya pada kemewahan itu harus diletakkan dan dibuang dari hidupnya.? Seperti yang telah dilakukan oleh istri Rosululloh saw sendiri Ibu Khatijah dan sahabat beliau Ustman bin Affan yang seluruh harta kemewahannya digunakan total untuk membantu perjuangan islam, sehingga didalam hidupnya tidak sedikit pun ada kecintaannya pada kemewahan duniawi yang hakikatnya mengambil jalan hidup seperti orang-orang fakir miskin. Dan benarkah hidupnya nanti tidak ada setitik kesombongan, ambisi dan gengsi didalam dirinya.? Kalau semua itu dapat dilewati dengan sempurna maka akan ada perkecualian dari Allah swt bagi orang-orang kaya seperti ini. Dan itu merupakan persyaratan sangat-sangat berat yang harus diterima oleh manusia di akhir jaman ini Tapi sekali lagi semua itu sudah sangatlah tipis kenyataan yang ditunjukkan oleh pribadi-pribadi orang kaya disetiap jamannya. Mereka-mereka malah banyak yang tergelincir dengan tipu daya duniawi.! Hal itu persis dengan apa yang sudah di firmankan oleh Allah swt di dalam Al-Qur’an surat

- Al-Haddid ayat 20;

” Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”

Inilah yang menjadikan alasan terakhir kita harus memperhatikan dan menjunjung tinggi martabat orang-orang fakir miskin didunia ini, sehingga tidak menjadikan salah kalau surga adalah hak milik sejati golongan orang fakir miskin. Mungkin barangkali dengan kita bermahabbah besar pada golongan ini kita akan ikut dimasukkan surga bersama-sama rombongan fakir miskin berserta Rosululloh saw. Mudah-mudahan kita bisa belajar banyak menyikapi hidup ini dengan sentuhan keperdulian pada orang-orang dhuafa disekitar kita.